Menyoal kualitas, memang tidak sederhana. Keslahan memahami kualitas akan memperparah keterpurukan. Lalu bagaimanakah sejatinya kualitas lembaga pendidikan Islam itu?
Secara bahasa kualitas berarti tingkat baik buruknya sesuatu . Pada era globalisasi, semua sektor kehidupan memandang kualitas sebagai suatu keniscayaan. Maka tidak heran, jika dalam banyak bidang, kompetisi menjadi suatu tradisi.
Pada dasarnya merupakan fitrah manusia, bahwa setiap individu menginginkan kebaikan dan tentu yang terbaik. Demi terwujudnya wacana idealitas itulah sebuah komunitas, bangsa dan juga individu mengalami dinamika yang cukup menarik. Akan tetapi fitrah itu akan mengalami kendala manakala secara konsep, pandangan tentang kualitas didasarkan pada salah satu aspek secara berlebihan, dan pada saat yang sama mengabaikan aspek lainnya.
Problem tersebut semakin terasa pada bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Apalagi mayoritas masyarakat memandang bahwa pendidikan adalah keahlian yang membangun mental profesional. Padahal di sisi lain, ajaran Islam sangat menekankan pendidikan tauhid atau aqidah. Sementara itu, realitas kehidupan dewasa ini belum dapat menerima aqidah sebagai pertimbangan mendasar, seseorang itu dikategorikan berkualitas atau tidak, pendidikan itu berkualitas atau tidak.
Kondisi tersebut adalah kewajaran, sebab arus materialisme sudah sedemikian kuat dan massif. Pada saat yang sama umat Islam belum kembali menemukan tradisi berfikirnya (alam al-afkar) (Malik Bennabi Syurutu al-Nahdhah). Akibatnya tidak sedikit individu yang lemah secara keilmuan dan keimanan terperosok pada pandangan yang keliru, tidak terkecuali ketika menilai sesuatu berkualitas atau tidak.
Masalah ini juga nampak begitu jelas dalam realitas sosial masyarakat. Di mana moral berada di belakang akal atau keinginan (nafsu). Terlebih dengan munculnya paradigma pendidikan sebagai “mesin” ekonomi abad modern, yang menjadikan siswa tak ubahnya konsumen yang harus mendapatkan keuntungan pragmatis demi eksistensi kedirian-nya di masa yang akan datang dengan berbagai skill-profesional sesuai dengan tuntutan zaman.
Dengan demikian menjadi satu tuntutan mendesak untuk menjawab semua itu atas dasar nilai-nilai Islam yang syamil dan kamil ini. Konsep kualitas dengan apa yang dipahami masyarakat pada umumnya hendaknya tidak menjadi acuan, panduan ataupun titik tolak lembaga pendidikan Islam dalam menjalankan roda pendidikannya. Tetapi harus benar-benar sesuai atau paling tidak mengakomodir sebagian kecil prinsip-prinsip dasar kualitas dalam perspektif lembaga pendidikan Islam.
Konsep Kualitas
Dalam dunia bisnis secara sederhana dapat dipahami bahwa kualitas bagi produsen berkisar pada biaya dan produktivitas. Sedang bagi konsumen adalah Kualitas, harga dan pelayanan purna jual. Dengan demikian kualitas adalah satu-satunya hal yang paling penting bagi kedua belah pihak.
Dengan demikian dalam dunia pendidikan, kualitas secara umum dapat dinilai dari tingkat daya guna dan kompetensi lulusan dalam menghadapi tantangan zaman. Lebih spesifik lagi, kualitas dalam lembaga pendidikan Islam menekankan pada konsistensi lulusan untuk berakhlak mulia dan pada saat yang sama mampu hidup secara mandiri dan kreatif.