KUALITAS DALAM PENDIDIKAN ISLAM

2 Juli 2009 - Leave a Response

Menyoal kualitas, memang tidak sederhana. Keslahan memahami kualitas akan memperparah keterpurukan. Lalu bagaimanakah sejatinya kualitas lembaga pendidikan Islam itu?

Secara bahasa kualitas berarti tingkat baik buruknya sesuatu . Pada era globalisasi, semua sektor kehidupan memandang kualitas sebagai suatu keniscayaan. Maka tidak heran, jika dalam banyak bidang, kompetisi menjadi suatu tradisi.
Pada dasarnya merupakan fitrah manusia, bahwa setiap individu menginginkan kebaikan dan tentu yang terbaik. Demi terwujudnya wacana idealitas itulah sebuah komunitas, bangsa dan juga individu mengalami dinamika yang cukup menarik. Akan tetapi fitrah itu akan mengalami kendala manakala secara konsep, pandangan tentang kualitas didasarkan pada salah satu aspek secara berlebihan, dan pada saat yang sama mengabaikan aspek lainnya.
Problem tersebut semakin terasa pada bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Apalagi mayoritas masyarakat memandang bahwa pendidikan adalah keahlian yang membangun mental profesional. Padahal di sisi lain, ajaran Islam sangat menekankan pendidikan tauhid atau aqidah. Sementara itu, realitas kehidupan dewasa ini belum dapat menerima aqidah sebagai pertimbangan mendasar, seseorang itu dikategorikan berkualitas atau tidak, pendidikan itu berkualitas atau tidak.
Kondisi tersebut adalah kewajaran, sebab arus materialisme sudah sedemikian kuat dan massif. Pada saat yang sama umat Islam belum kembali menemukan tradisi berfikirnya (alam al-afkar) (Malik Bennabi Syurutu al-Nahdhah). Akibatnya tidak sedikit individu yang lemah secara keilmuan dan keimanan terperosok pada pandangan yang keliru, tidak terkecuali ketika menilai sesuatu berkualitas atau tidak.
Masalah ini juga nampak begitu jelas dalam realitas sosial masyarakat. Di mana moral berada di belakang akal atau keinginan (nafsu). Terlebih dengan munculnya paradigma pendidikan sebagai “mesin” ekonomi abad modern, yang menjadikan siswa tak ubahnya konsumen yang harus mendapatkan keuntungan pragmatis demi eksistensi kedirian-nya di masa yang akan datang dengan berbagai skill-profesional sesuai dengan tuntutan zaman.
Dengan demikian menjadi satu tuntutan mendesak untuk menjawab semua itu atas dasar nilai-nilai Islam yang syamil dan kamil ini. Konsep kualitas dengan apa yang dipahami masyarakat pada umumnya hendaknya tidak menjadi acuan, panduan ataupun titik tolak lembaga pendidikan Islam dalam menjalankan roda pendidikannya. Tetapi harus benar-benar sesuai atau paling tidak mengakomodir sebagian kecil prinsip-prinsip dasar kualitas dalam perspektif lembaga pendidikan Islam.
Konsep Kualitas
Dalam dunia bisnis secara sederhana dapat dipahami bahwa kualitas bagi produsen berkisar pada biaya dan produktivitas. Sedang bagi konsumen adalah Kualitas, harga dan pelayanan purna jual. Dengan demikian kualitas adalah satu-satunya hal yang paling penting bagi kedua belah pihak.
Dengan demikian dalam dunia pendidikan, kualitas secara umum dapat dinilai dari tingkat daya guna dan kompetensi lulusan dalam menghadapi tantangan zaman. Lebih spesifik lagi, kualitas dalam lembaga pendidikan Islam menekankan pada konsistensi lulusan untuk berakhlak mulia dan pada saat yang sama mampu hidup secara mandiri dan kreatif.

WAJAH PERADABAN

22 Juni 2009 - Leave a Response

Menjelang pilpres 2009, banyak orang yang mulai menjadikan kesimpulan pribadinya sebagai asumsi kebenaran. Dengan dalih toleransi dan kerukunan bangsa, kalimat agama sering kali dijadikan statemen yang menggiring opini publik untuk menjauhinya. “Jangan gunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan politik, jangan bawa-bawa agama ke ranah politik”, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya opini tidaklah dilarang, namun jika opini itu menyinggung atau mungkin menyimpang dari konsep dasar sebuah keyakinan, maka opini tersebut layak untuk diabaikan. Pernyataan Tifatul Sembiring, Presiden PKS yang membenturkan jilbab dengan realitas masyarakat adalah salah satu bukti.

Kondisi itu, dalam kacamata filsafat disebut sebagai keadaan inferior. Keadaan inferior yang massif dan menjadi watak suatu komunitas disebut dengan inferiorisme. Contoh sederhana dari gejala inferiorisme ini adalah lemahnya kesadaran dan kepercayaan seorang muslim dalam menjalankan dan mendakwahkan nilai-nilai yang sejatinya diyakini dalam hati.

Dalam konteks kekinian, di mana kita akan menghadapi masa pilpres, sebagai seorang muslim, sudah barang tentu kita akan memilih capres/cawapres yang mencerminkan nilai-nilai Islam, sekecil apapun itu. Mengacu pada definisi peradaban yang mendasar, peradaban sebagai implementasi nilai-nilai keyakinan dalam segala segi kehidupan, maka sekecil apa pun sinyal keimanan, maka itulah orang yang beradab atas dasar keyakinannya.

Indonesia, sebagai negeri muslim terbesar di dunia, sangat layak untuk memiliki presiden yang berafiliasi secara jelas terhadap nasib umat Islam. Akan tetapi kita mengahadapi kendala yang cukup serius, yakni kondisi di mana umat Islam tidak lagi memandang simbol-simbol sebagai hal prinsip. Sebaliknya tidak sedikit yang memandangnya terbalik. Akibatnya opini yang sifatnya menyimpang seringkali terucap tanpa sadar.

Islam adalah din, juga way of life dan tentu saja juga peradaban. Momentum pilpres kali ini akan menentukan wajah peradaban umat Islam sendiri. Jika kaum muslimah yang berjilbab komitmen dengan keyakinannya tentu mereka akan memilih pemimpin yang mendukung jilbab itu sendiri. Akan tetapi, seringkali ilmu itu kandas dengan kepentingan sesaat, atau ketaatan yang melampaui kebenaran mendasar.

Saya tidak sedang mendukung salah satunya, tapi saya mengajak kita semua untuk berpikir kritis, anlitis dan konstruktif. Pemuda tidak boleh menjadi “pengasong” kepentingan elit politik, apalagi jika jelas-jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena bagaimanapun, pilihan kita pada pilpres nanti akan menentukan nasib umat Islam.

Pilihan kita, itulah wajah dan hati kita.

UKHUWAH; BUTUH ILMU

13 April 2009 - Satu Tanggapan

Ada kata-kata indah mengatakan bahwa, hari ini adalah masa depanmu. Kalimat tersebut bukan saja indah dalam perasaan manusia namun juga merasuk dalam raga mereka yang berpikir. Siapa mereka yang berpikir Baca entri selengkapnya »

DEMOKRASI, harus bagaimana?

1 April 2009 - Leave a Response

Benci, antusias, tidak tahu mungkin itulah tiga kelompok ekstrem umat menanggapi sistem demokrasi di negeri ini. Tetapi hal esensi yang sebenarnya perlu dipahami adalah dasar, sejarah, perkembangan dan orientasi demokrasi Baca entri selengkapnya »

Pembinaan SDM Pendidikan

12 Maret 2009 - 2 Tanggapan

PEMBINAAN SDM PENDIDIKAN

Pendidikan adalah nyawa kehidupan. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Melalui pendidikan suatu peradaban tegak dan menghegemoni. Sehingga untuk bangkit dan menjadi yang terbaik pendidikan adalah tolok ukur dari suatu keberhasilan.

Di sini sekilas disajikan proses pembinaan yang telah berlangsung dalam sejarah peradaban Islam Baca entri selengkapnya »

Menjadi Muslim Sejati

5 Maret 2009 - Leave a Response

Sudah bukan rahasia lagi setiap kita sangat mendambakan kesempurnaan Islam itu sendiri. Kita pun berupaya untuk itu. Akan tetapi sayang dalam keseharian seringkali apa yang kita idamkan itu tak dapat kita rawat dengan baik.

Hal ini adalah kisah nyata yang kualami dalam beberapa bulan yang lalu. Ada seorang akhwat yang sejak awal memiliki cita-cita membangun Islam yang mulia. Kamipun berlomba untuk menjadi yang terbaik. Akan tetapi ketika masa kuliah kamipun harus berpisah. Dia bergabung dengan salah satu organisasi Islam dan aku pun demikian.

Waktu berlalu, komunikasi amat jarang kami lakukan. Karena kami komitmen dengan keyakinan kami. Waktu pun akhirnya mendekatkan kami pada hari saat komitmen itu harus direalisasikan. Aku sendiri masih ragu tapi aku berupaya untuk membuktikannya. Mental pun ku persiapkan, dan aku berdoa siang malam.

Tapi diluar dugaan, dengan sendirinya dia mengundurkan diri dengan alasan kita beda fikrah, dan jika dilanjutkan khawatir aku melarang dia berdakwah dengan statusku yang akan menjadi imam bagi dirinya.

Problem cinta adalah problem umum yang dialami oleh hampir setiap manusia. Zaman Rasul pun tragedi menerima dan menolak cinta juga pernah terjadi. Tetapi di zaman itu bukan karena beda fikrah alias organisasi tapi karena memang dikhawatirkan terjadi mudharat yang lebih besar, yakni perceraian.

Kisah demikian sejatinya tidak saja marak dalam masalah private antar individu. Tetapi kini juga kian menjadi dengan banyaknya ormas Islam di negeri ini. Jika kita berpikir sejenak, apa yang kurang di negeri ini? Umat Islam mayoriti, ormasnya besar, elegan ada di berbagai sektor kehidupan. Tetapi mengapa hingga detik ini Islam di Indonesia masih dirasa asing? Aneh dan bahkan yang cenderung mudah berkonflik itu juga umat Islam….

Disini tidak ada maksud menggeneralisir masalah pribadi ke problem umum. Karena bagiku semua yang menimpa diri ku dan tidak sesuai dengan rencana adalah anugerah besar dari Allah. Karena Allah saja yang lebih tau mana yang terbaik buat hamba-Nya.

Tetapi satu hal yang sering kurisaukan mengapa umat Islam di negeri ini masih asyk hidup di atas sikap arogansi, gengsi, dan tak simpati?

Yah ini hanyalah kekesalan, dan tak akan pernah terjadi peruahan sejauh diri sendiri tak memulainya. Saudaraku aku memberikan maaf kepada siapapun dan janganlah kalian menganggap aku sebagai musuhmu. Teman-teman di organisasi lain, apa yang kita perjuangkan adalah Islam. Dan kalau hati, sikap,ucapan  ini pernah menggoreskan luka di hati dan perasaanmu, berkenanlah membukakan pintu maaf bagiku.

Aku sangat yakin bahwa muslim sejati adalah muslim yang bisa memberi maaf dan menjaga amanah, ukhuwah dengan sesamanya. Tidak saling berkompetisi mencari pujian, jabatan dan kekayaan semu. Muslim sejati akan mengantarkan kita pada keridoan-Nya.

UMAT ISLAM BERSATU?

27 Desember 2008 - 2 Tanggapan

Umat Islam bersatu itu bisa, tapi berafiliasi dengan PKS pada pemilu 09 bukan itu yang dimaksud bersatu.

Bersatu dalam Islam melalui momentum Hijriah  adalah bersatu untuk bersama-sama mengokohkan tali ukhuwah intern umat Islam. Bersama-sama menyelamatkan agama agar terhindar dari gangguan yang membahayakan umat Islam. Jika umat Islam Indonesia diseru untuk bersatu kemudian terbatas hanya pada apa yang dilakukan oleh satu kelompok saja tentu bukanlah satu hal yang bijaksana. Karena tanpa diserupun sejauh umat Islam menilai perlu didukung dan mendesak untuk segera diwujudkan rencana tersebut tentu mereka akan melakukan dengan sendirinya.

Sejauh ini kemiskinan hanya menjadi penghias layar kaca tatkala tampil program berita dan kriminal. Selebihnya DPR dan Pemerintah sibuk dengan berbagai macam kepentingan yang tentu mereka klaim sebagai kepentingan rakyat. Giliran pemilu, umat Islam diajak bersatu, di sana ada kemiskinan, di sini ada kriminalitas, dan di jauh sana ada kebejatan moral. Ayo dukung kami, dukung kami bersatulah bersama kami, kita berantas semua itu.

Itulah kira-kira nanti kalimat-kalimat yang akan terlontar dari bibir-bibir manis para caleg di negeri ini. Padahal kalau mereka memang konsisten dengan ucapannya itu kenapa dana untuk kampanye di tempat lain lebih dia pentingkan dari pada menyalurkannya untuk apa yang mereka ucapkan itu. Jika ya, segera jangan nunggu nanti. Ah, saudara-saudaraku, hati-hati kita harus sedikit mengerti kalau tidak mau gigit jari lagi.

Itu baru kampanye, kita amat awam untuk bisa mengerti apa itu UU pemilu, apa itu parelementary threatshould, dll? Dan kita tidak punya kepentingan untuk mengerti itu. Tapi ketahuilah ketidaktahuan itulah yang sejatinya menjadi sumber kesengsaraan bangsa ini.

Sekarang yang perlu kita lakukan adalah sama-sama waspada untuk memilih, siapa yang akan kita jadikan wakil kita. Akan lebih baik jika kemudian kita berafiliasi pada satu partai Islam dengan ba’iat untuk sekuat tenaga menjadikan umat Islam Indonesia sejahtera. Saya kira transaksi ini lebih jelas dari pada kita hanya mendengar ungkapan indah yang tak jelas kapan dan bagaimana akan terwujud.

Cukuplah derita kita, jangan sampai anak, adik dan saudara kita tidak bisa sekolah seperti kita. Dan pemilu 2009 menentukan apakah anak,adik kita akan sekolah atau tidak. Dengan demikian seruan saya adalah mari belajar memahami masalah dan jangan terjebak pada arus informasi yang ada.

Semoga umat Islam Indonesia bisa benar-benar bersatu dan sejahtera. aminnnn.

Wahai para partai Islam, jangan menharap kami bersatu, kalian dululah yang harus bersatu. Munafik itu namanya jika kalian menulis harus bersatu sementara anda membenci dan tidak berupaya untuk bersatu dengan partai Islam lainnya.

Epistemologi Islam

25 Desember 2008 - Leave a Response

Akhir-akhir ini term epistemologi begitu akrab menyapa gendang telinga umat Islam, terkhusus generasi muda di berbagai kampus di negeri ini. Term ini semakin menjadi tidak asing ketika lahir sebuah organisasi para cendekiawan muslim muda Indonesia yang bernama INSISTS. Pun demikian epistemologi bukanlah kajian yang dapat dipahami dengan sepintas, sekali dua kali diskusi. Kajian ini membutuhkan kesungguhan yang serius dari kita semua. Sebab sangat tidak menutup kemungkinan sebagian besar di antara kita berada dalam posisi tidak memahami epistemologi di saat term itu sudah sering atau bahkan mungkin begitu mudah kita mengucapkannya.

Tulisan kali ini tidak berupaya  menjelaskan epistemologi secara rijid. Akan tetapi hanya sebuah ulasan “dangkal” yang diharapkan mampu memberikan satu stimulasi kepada para aktivis dakwah untuk sedini mungkin memahami makna dan urgensitas epistemologi Islam dalam proyek menegakkan kembali peradaban Islam.

Secara sederhana epistemologi dapat kita pahami sebagai ilmu yang menjadikan ilmu sebagai objek kajiannya. Ilmu yang mempelajari ilmu, yang meliputi; keilmiahan, validitas, otoritas, kredibilitas sebuah ilmu dalam mengungkap satu misteri atau permasalahan.

Hermeneutika misalnya, apakah ilmu ini layak diterapkan untuk memahami al-Qur’an? di sini kita butuh yang namanya epistemologi. Kalau memang layak kenapa tidak dihasilkan oleh ulama kita terdahulu atau kontemporer? Kenapa harus Barat yang menciptakan dan mengembangkan ilmu hermeneutika itu?

Suharsono menjelaskan bahwa epistemologi (ushul al-’ilm) merupakan satu perangkat utama yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka menegakkan kembali peradaban Islam. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan adanya epistemologi Islam secara perlahan atau pasti umat akan mengerti superioritas ajaran Islam yang selam ini justru diyakini sebaliknya.

Epistemologi adalah sebuah cara agar kita dapat menggapai apa yang kita harapkan. Ada sebuah ilustrasi menarik terkait dengan pemahaman epistemologi ini.

Suatu saat anda berlibur menuju pantai, di sana anda melihat hamparan pasir, dan luasnya laut serta kokohnya gunung dan batu karang di sekitar laut. Pada saat yang sama, kemudian timbul keinginan untuk mendapat ikan, mutiara dan rumput laut. Mungkinkah kita akan mendapatkan semua itu tanpa berupaya mencari sarana dan menyusun strategi untuk mewujudkannya? Nah, berbagai sarana dan strategi untuk mewujudkan keinginan itulah yang selanjutnya disebut epistemologi.

Epistemologi Islam

Epistemologi Islam bersumber pada indra, akal dan wahyu. Berbeda dengan Barat, sumber kebenaran mereka (epistemologi Barat) adalh rasio. Sehingga segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh indera dan dijelaskan secara rasional dianggapnya nisbi. Sehingga pantas jika kemudian Nietzsche berteriak God is dead”.

Berbeda dengan Islam, semakin tinggi pengetahuan (ilm) seseorang dia semakin bertaqwa kepada Allah Swt. Tetapi faktanya berbeda, sekarang malah banyak sarjana muslim berpikir seperti orang Barat. Bahkan yang lulus S3 juga tidak lebih sholeh dari mereka yang lulus SMA.

Disinilah pentingnya kita memahami epistemologi Islam itu. Dalam sebuah kunjungan ilmiahnya di UI beberapa waktu yang lalu, ketika menjawab pertanyaan seorang wartawan dalam diskusi tersebut, Prof. Wan menjelaskan, bahwa problem paling mendasar umat Islam adalah problem kekeliruan dalam keilmuan (confusion of knowledge), bukan problem kebodohan. Saat ini begitu banyak para cerdik pandai yang dimiliki umat Islam, tetapi memiliki ilmu yang keliru.  Akibatnya, konsep adil dan adab sebagaimana dikehendaki oleh Islam tidak bisa diterapkan. Sebagai contoh,  konsep demokrasi yang menempatkan semua manusia pada derajat yang sama dalam pengambilan keputusan. Orang yang saleh disamakan dengan orang jahat; orang pandai disamakan derajatnya dengan dengan orang bodoh. “Jika untuk masuk UI ada seleksi, apakah tidak perlu dipikirkan, untuk memberikan suara pun nantinya perlu ada seleksi,” kata Prof. Wan, sambil mengimbau agar para pakar politik memikirkan masalah ini lebih lanjut.

Penutup

Secara sederhana epistemologi Islam sangat mendesak untuk dimiliki jika kita memang benar-benar merindukan tegaknya peradaban Islam itu sendiri. Tanpa itu, kita hanya akan terjebak pada ritual, seremonial, responsif dan reaktif serta tidak produktif.

BHP! Jangan Kaget!!!

24 Desember 2008 - Leave a Response

Bermain di tengah penderitaan rakyat? Itu sejak dulu

Ngumpulin duit dengan nipu rakyat? Itu hobi kaum berdasi

Ngamuk kalau ada yang tidak cocok? Itu rakyat kita, masih malas belajar.

Belakangan isu BHP mencuat ke permukaan, pro-kontra pun mulai bermunculan. Berbagai macam prediksi yang cenderung “pesimis” dengan BHP  lebih banyak diakomodir media dari yang sebaliknya. Akan tetapi seperti apapun media bercerita kita perlu kritisi bahwa sejauh ini belum ada media massa baik dalam bentuk koran harian dan tv yang secara sadar membela kepentingan umat Islam. Dan perlu diingat sekalipun setiap hari 200 mahasiswa UI berdemo menolak BHP, keputusan akan sulit untuk dirubah, apalagi dibatalkan.

Itu sudah berlangsung dan akan mengundang berbagai macam “kerusuhan” lain di masa yang akan datang. Sekarang mari kita buka mata hati kita, 2009 tinggal menunggu hari dan itu berarti Indonesia ini nanti akan ramai denagn berbagai macam berita, dari yang sangat serius sampai pada hal-hal yang tidak perlu diberitakan tapi tampil di media massa.

Ketahuilah bahwa lagi-lagi umat Islam tidak akan terwakili aspirasinya. Apa indikator dari semua itu? Setidaknya beberapa point berikut dapat dijadikan justifikasi akan pernyataan tersebut.

1. Jumlah partai Islam semakin bertambah

2. Ketidakpercayaan antar ormas & orsos, orpol Islam juga kian melebar

3. Tidak adanya nota kesepahaman yang mereka bentuk dalam upaya mengakomodir aspirasi umat Islam.

Wahai pemuda muslim, masalah kita demikian kompleks & ini secara langsung akan berpengaruh secara signifikan terhadap stabilitas kita sebagai muslim baik secara individu, kelompok bahkan secara makro umat Islam Indonesia.

Kiranya perlu kita duduk bersama, sejenak berpikir dan bersama-sama menganalisa apa sebenarnya sumber masalah yang hingga saat ini menjadikan umat Islam dalam posisi termarjinalkan? Selanjutnya mari kita evaluasi, gerakan perjuangan mahasiswa dan ormas Islam selama ini.

Apakah demo masih relevan? Atau ada cara yang lebih halus namun dapat diandalkan keberhasilannya? Lalu bagaimana jika kemudian cara kedua ternyata memakan waktu yang tidak sedikit, siapkah kita?

Mengubah bangsa ini tidak cukup dengan demo, menjadi anggota legislatif dll. Tetapi mengubah bangsa ini butuh ilmu, keyakinan dan semangat juang yang membara tanpa itu sepertinya kita hanya berada dalam bingkai angan-angan yang jauh dari kenyataan.

Kemanakah pemuda muslim berada? Apa yang sedang mereka siapkan untuk merubah bangsa ke depan? Ikut cari duit lewat pemilu 09? Atau justru tak mau tau dan asyk dengan kegiatan hura-huranya?

Siapkanlah diri kita sebaik-baiknya. Jika anda muslim belajarlah al-Qur’an, bahasa Arab, dll. Jika anda kuliah ekonomi, pelajari pula ilmu syariah agar anda tidak menjadi “cecenguk” kaum kapitalis. Jika anda belajar hukum, pelajari pula ilmu syariah dan fiqh agar anda tidak menghukum para kiai dan ulama.

Sahabat, masih panjang perjalanan kita, dan tanpa persiapan kita hanya akan mengulang kesengsaraan nenek moyang kita tatkala dijajah Belanda. Merdeka tapi menderita, Demokrasi tapi menyayat hati. Lihatlah kampus-kampus negeri sekarang, orang miskin sudah jarang, anak-anak tidak sekolah juga banyak, kelaparan di mana-mana dan kenakalan remaja di setiap ada manusia berkumpul di sana.

Apa yang kita pikirkan? Kemana kita akan berjalan? Akankah kita rela mati dalam penindasan dan kebodohan ini? Bangun dan bangkitlah, perjuangkan kebenaran dan tegakkan keadilan.

SELAMAT ATAS RAKERNAS HIDAYATULLAH IV BATAM

1 Desember 2008 - Satu Tanggapan

Selasa, 2 Desember 2008 Hidayatullah akan menyelenggarakan Rakernas IV di kota Batam Kepulauan Riau. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 400 peserta itu akan dibuka oleh wakil presiden HM. Yusuf Kalla. Berlokasi di kampus Pesantren Hidayatullah Batam pembukaan rakernas akan dikawal ketat oleh aparat keamanan serta dihadiri oleh Walikota Batam.

Saya sendiri alhamdulillah juga berada di lokasi dan sempat berkunjung ke kampus Hidayatullah Tanjung Pinang dan Pulau Bintan. Luar biasa, para santri binaan allahuyarham Ustadz Abdullah Said ternyata masih komitmen dengan nilai-nilai spirit perjuangan Islam. Ditengah konstelasi orpol yang bersegera menyambut pemilu 2009 Hidayatullah tetap konsisten dengan amal sosial dakwah dan pendidikannya.

Saya juga sempat bertemu dengan Ustadz Bahar Mustofa pimpinan DPD Aceh Barat. Ustadz yang miriprleb dengan wajah Eropa ini akrab disapa dengan Bahar Belanda. Beliau adalah seorang kader yang sejak pertama bergabung dengan Hidayatullah hingga saat ini banyak mengemban amanah sebagai tenaga perintis pesantren Hidayatullah. Diantaranya adalah Papua, Tenggarong, Mamuju dan saat ini Aceh Barat.

Kami berharap sekalipun Hidayatullah tidak dipenuhi oleh para kader yang namanya berderet titel, namun kesucian hati dan ketulusan niat untuk turut serta membangun bangsa Indonesia adalah satu hal yang tak perlu diragukan dan dicurigai. Terlebih dengan tema “Pembanguk Kemajuan Sumber Daya Insani Berkualitas UnutkKemajuan Bangsa.

Hidayatullah harus menjaga konsistensi perjuangannya dan semoga melalui rakernas IV ini Hidayatullah dapat kembali secara bertahap  merealisasikan visi-misi yang merupakan  hal prinsip dalam perjuangan. Melalui aplikasi SNW (SISTEMATIKA NUZULNYA WAHYU) insyaallah konsistensi dan jama’ah kita akan selalu mengundang dan menjemput pertolongan Allah.