Bermain di tengah penderitaan rakyat? Itu sejak dulu
Ngumpulin duit dengan nipu rakyat? Itu hobi kaum berdasi
Ngamuk kalau ada yang tidak cocok? Itu rakyat kita, masih malas belajar.
Belakangan isu BHP mencuat ke permukaan, pro-kontra pun mulai bermunculan. Berbagai macam prediksi yang cenderung “pesimis” dengan BHP lebih banyak diakomodir media dari yang sebaliknya. Akan tetapi seperti apapun media bercerita kita perlu kritisi bahwa sejauh ini belum ada media massa baik dalam bentuk koran harian dan tv yang secara sadar membela kepentingan umat Islam. Dan perlu diingat sekalipun setiap hari 200 mahasiswa UI berdemo menolak BHP, keputusan akan sulit untuk dirubah, apalagi dibatalkan.
Itu sudah berlangsung dan akan mengundang berbagai macam “kerusuhan” lain di masa yang akan datang. Sekarang mari kita buka mata hati kita, 2009 tinggal menunggu hari dan itu berarti Indonesia ini nanti akan ramai denagn berbagai macam berita, dari yang sangat serius sampai pada hal-hal yang tidak perlu diberitakan tapi tampil di media massa.
Ketahuilah bahwa lagi-lagi umat Islam tidak akan terwakili aspirasinya. Apa indikator dari semua itu? Setidaknya beberapa point berikut dapat dijadikan justifikasi akan pernyataan tersebut.
1. Jumlah partai Islam semakin bertambah
2. Ketidakpercayaan antar ormas & orsos, orpol Islam juga kian melebar
3. Tidak adanya nota kesepahaman yang mereka bentuk dalam upaya mengakomodir aspirasi umat Islam.
Wahai pemuda muslim, masalah kita demikian kompleks & ini secara langsung akan berpengaruh secara signifikan terhadap stabilitas kita sebagai muslim baik secara individu, kelompok bahkan secara makro umat Islam Indonesia.
Kiranya perlu kita duduk bersama, sejenak berpikir dan bersama-sama menganalisa apa sebenarnya sumber masalah yang hingga saat ini menjadikan umat Islam dalam posisi termarjinalkan? Selanjutnya mari kita evaluasi, gerakan perjuangan mahasiswa dan ormas Islam selama ini.
Apakah demo masih relevan? Atau ada cara yang lebih halus namun dapat diandalkan keberhasilannya? Lalu bagaimana jika kemudian cara kedua ternyata memakan waktu yang tidak sedikit, siapkah kita?
Mengubah bangsa ini tidak cukup dengan demo, menjadi anggota legislatif dll. Tetapi mengubah bangsa ini butuh ilmu, keyakinan dan semangat juang yang membara tanpa itu sepertinya kita hanya berada dalam bingkai angan-angan yang jauh dari kenyataan.
Kemanakah pemuda muslim berada? Apa yang sedang mereka siapkan untuk merubah bangsa ke depan? Ikut cari duit lewat pemilu 09? Atau justru tak mau tau dan asyk dengan kegiatan hura-huranya?
Siapkanlah diri kita sebaik-baiknya. Jika anda muslim belajarlah al-Qur’an, bahasa Arab, dll. Jika anda kuliah ekonomi, pelajari pula ilmu syariah agar anda tidak menjadi “cecenguk” kaum kapitalis. Jika anda belajar hukum, pelajari pula ilmu syariah dan fiqh agar anda tidak menghukum para kiai dan ulama.
Sahabat, masih panjang perjalanan kita, dan tanpa persiapan kita hanya akan mengulang kesengsaraan nenek moyang kita tatkala dijajah Belanda. Merdeka tapi menderita, Demokrasi tapi menyayat hati. Lihatlah kampus-kampus negeri sekarang, orang miskin sudah jarang, anak-anak tidak sekolah juga banyak, kelaparan di mana-mana dan kenakalan remaja di setiap ada manusia berkumpul di sana.
Apa yang kita pikirkan? Kemana kita akan berjalan? Akankah kita rela mati dalam penindasan dan kebodohan ini? Bangun dan bangkitlah, perjuangkan kebenaran dan tegakkan keadilan.