Akhir-akhir ini term epistemologi begitu akrab menyapa gendang telinga umat Islam, terkhusus generasi muda di berbagai kampus di negeri ini. Term ini semakin menjadi tidak asing ketika lahir sebuah organisasi para cendekiawan muslim muda Indonesia yang bernama INSISTS. Pun demikian epistemologi bukanlah kajian yang dapat dipahami dengan sepintas, sekali dua kali diskusi. Kajian ini membutuhkan kesungguhan yang serius dari kita semua. Sebab sangat tidak menutup kemungkinan sebagian besar di antara kita berada dalam posisi tidak memahami epistemologi di saat term itu sudah sering atau bahkan mungkin begitu mudah kita mengucapkannya.
Tulisan kali ini tidak berupaya menjelaskan epistemologi secara rijid. Akan tetapi hanya sebuah ulasan “dangkal” yang diharapkan mampu memberikan satu stimulasi kepada para aktivis dakwah untuk sedini mungkin memahami makna dan urgensitas epistemologi Islam dalam proyek menegakkan kembali peradaban Islam.
Secara sederhana epistemologi dapat kita pahami sebagai ilmu yang menjadikan ilmu sebagai objek kajiannya. Ilmu yang mempelajari ilmu, yang meliputi; keilmiahan, validitas, otoritas, kredibilitas sebuah ilmu dalam mengungkap satu misteri atau permasalahan.
Hermeneutika misalnya, apakah ilmu ini layak diterapkan untuk memahami al-Qur’an? di sini kita butuh yang namanya epistemologi. Kalau memang layak kenapa tidak dihasilkan oleh ulama kita terdahulu atau kontemporer? Kenapa harus Barat yang menciptakan dan mengembangkan ilmu hermeneutika itu?
Suharsono menjelaskan bahwa epistemologi (ushul al-’ilm) merupakan satu perangkat utama yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka menegakkan kembali peradaban Islam. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan adanya epistemologi Islam secara perlahan atau pasti umat akan mengerti superioritas ajaran Islam yang selam ini justru diyakini sebaliknya.
Epistemologi adalah sebuah cara agar kita dapat menggapai apa yang kita harapkan. Ada sebuah ilustrasi menarik terkait dengan pemahaman epistemologi ini.
Suatu saat anda berlibur menuju pantai, di sana anda melihat hamparan pasir, dan luasnya laut serta kokohnya gunung dan batu karang di sekitar laut. Pada saat yang sama, kemudian timbul keinginan untuk mendapat ikan, mutiara dan rumput laut. Mungkinkah kita akan mendapatkan semua itu tanpa berupaya mencari sarana dan menyusun strategi untuk mewujudkannya? Nah, berbagai sarana dan strategi untuk mewujudkan keinginan itulah yang selanjutnya disebut epistemologi.
Epistemologi Islam
Epistemologi Islam bersumber pada indra, akal dan wahyu. Berbeda dengan Barat, sumber kebenaran mereka (epistemologi Barat) adalh rasio. Sehingga segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh indera dan dijelaskan secara rasional dianggapnya nisbi. Sehingga pantas jika kemudian Nietzsche berteriak “God is dead”.
Berbeda dengan Islam, semakin tinggi pengetahuan (ilm) seseorang dia semakin bertaqwa kepada Allah Swt. Tetapi faktanya berbeda, sekarang malah banyak sarjana muslim berpikir seperti orang Barat. Bahkan yang lulus S3 juga tidak lebih sholeh dari mereka yang lulus SMA.
Disinilah pentingnya kita memahami epistemologi Islam itu. Dalam sebuah kunjungan ilmiahnya di UI beberapa waktu yang lalu, ketika menjawab pertanyaan seorang wartawan dalam diskusi tersebut, Prof. Wan menjelaskan, bahwa problem paling mendasar umat Islam adalah problem kekeliruan dalam keilmuan (confusion of knowledge), bukan problem kebodohan. Saat ini begitu banyak para cerdik pandai yang dimiliki umat Islam, tetapi memiliki ilmu yang keliru. Akibatnya, konsep adil dan adab sebagaimana dikehendaki oleh Islam tidak bisa diterapkan. Sebagai contoh, konsep demokrasi yang menempatkan semua manusia pada derajat yang sama dalam pengambilan keputusan. Orang yang saleh disamakan dengan orang jahat; orang pandai disamakan derajatnya dengan dengan orang bodoh. “Jika untuk masuk UI ada seleksi, apakah tidak perlu dipikirkan, untuk memberikan suara pun nantinya perlu ada seleksi,” kata Prof. Wan, sambil mengimbau agar para pakar politik memikirkan masalah ini lebih lanjut.
Penutup
Secara sederhana epistemologi Islam sangat mendesak untuk dimiliki jika kita memang benar-benar merindukan tegaknya peradaban Islam itu sendiri. Tanpa itu, kita hanya akan terjebak pada ritual, seremonial, responsif dan reaktif serta tidak produktif.