Sudah bukan rahasia lagi setiap kita sangat mendambakan kesempurnaan Islam itu sendiri. Kita pun berupaya untuk itu. Akan tetapi sayang dalam keseharian seringkali apa yang kita idamkan itu tak dapat kita rawat dengan baik.
Hal ini adalah kisah nyata yang kualami dalam beberapa bulan yang lalu. Ada seorang akhwat yang sejak awal memiliki cita-cita membangun Islam yang mulia. Kamipun berlomba untuk menjadi yang terbaik. Akan tetapi ketika masa kuliah kamipun harus berpisah. Dia bergabung dengan salah satu organisasi Islam dan aku pun demikian.
Waktu berlalu, komunikasi amat jarang kami lakukan. Karena kami komitmen dengan keyakinan kami. Waktu pun akhirnya mendekatkan kami pada hari saat komitmen itu harus direalisasikan. Aku sendiri masih ragu tapi aku berupaya untuk membuktikannya. Mental pun ku persiapkan, dan aku berdoa siang malam.
Tapi diluar dugaan, dengan sendirinya dia mengundurkan diri dengan alasan kita beda fikrah, dan jika dilanjutkan khawatir aku melarang dia berdakwah dengan statusku yang akan menjadi imam bagi dirinya.
Problem cinta adalah problem umum yang dialami oleh hampir setiap manusia. Zaman Rasul pun tragedi menerima dan menolak cinta juga pernah terjadi. Tetapi di zaman itu bukan karena beda fikrah alias organisasi tapi karena memang dikhawatirkan terjadi mudharat yang lebih besar, yakni perceraian.
Kisah demikian sejatinya tidak saja marak dalam masalah private antar individu. Tetapi kini juga kian menjadi dengan banyaknya ormas Islam di negeri ini. Jika kita berpikir sejenak, apa yang kurang di negeri ini? Umat Islam mayoriti, ormasnya besar, elegan ada di berbagai sektor kehidupan. Tetapi mengapa hingga detik ini Islam di Indonesia masih dirasa asing? Aneh dan bahkan yang cenderung mudah berkonflik itu juga umat Islam….
Disini tidak ada maksud menggeneralisir masalah pribadi ke problem umum. Karena bagiku semua yang menimpa diri ku dan tidak sesuai dengan rencana adalah anugerah besar dari Allah. Karena Allah saja yang lebih tau mana yang terbaik buat hamba-Nya.
Tetapi satu hal yang sering kurisaukan mengapa umat Islam di negeri ini masih asyk hidup di atas sikap arogansi, gengsi, dan tak simpati?
Yah ini hanyalah kekesalan, dan tak akan pernah terjadi peruahan sejauh diri sendiri tak memulainya. Saudaraku aku memberikan maaf kepada siapapun dan janganlah kalian menganggap aku sebagai musuhmu. Teman-teman di organisasi lain, apa yang kita perjuangkan adalah Islam. Dan kalau hati, sikap,ucapanĀ ini pernah menggoreskan luka di hati dan perasaanmu, berkenanlah membukakan pintu maaf bagiku.
Aku sangat yakin bahwa muslim sejati adalah muslim yang bisa memberi maaf dan menjaga amanah, ukhuwah dengan sesamanya. Tidak saling berkompetisi mencari pujian, jabatan dan kekayaan semu. Muslim sejati akan mengantarkan kita pada keridoan-Nya.