Benci, antusias, tidak tahu mungkin itulah tiga kelompok ekstrem umat menanggapi sistem demokrasi di negeri ini. Tetapi hal esensi yang sebenarnya perlu dipahami adalah dasar, sejarah, perkembangan dan orientasi demokrasi itu sendiri. Setelah semua terjawab baru kita bisa duduk bersama untuk kemudian membahas langkah tepat apa yang mesti kita lakukan.
Kemarin 31 Maret 2009 dalam sebuah kesempatan di istana rakyat (gedung DPR, MPR) saya turut hadir dalam sebuah diskusi singkat dengan salah seorang penentu kebijakan MPR.
Ada alasan praktis mengapa kita harus berada di parlemen. Perjuangan umat ini memerlukan naungan yuridis yang kokoh. Oleh karena itu umat Islam harus bisa berperan sebagai pemimpin manusia. Bukan hanya pemimpin orang bertaqwa.
Perhatikan, sepintas statemen tadi enak dan indah sekali. Tapi ingat memimpin manusia itu bukanlah sesuatu yang mudah. Sesama muslim saja sering terjadi pertikaian, bagaimana mungkin jika dengan yang lain.
Terlepas dari statemen tadi, al-Qur’an mengajarkan agar kita berdoa untuk dijadikan pemimpin orang-orang yang bertaqwa. Kenapa?
Lihat bangsa kita saat ini, ketika rakyatnya sudah tidak lagi menjadikan taqwa sebagai urusan utama dalam hidupnya. Berbagai norma, undang-undang, amandemen dan apapun namanya tidak pernah sampai pada maksudnya. Sebaliknya, anggaran terbuang untuk itu semua.
Melihat realitas demikian saya rasa tidak salah jika ada sebagian membenci demokrasi, tetapi bagi mereka yang mendapat keuntungan dengan sistem tersebut “oh kita perlu juga turun ke sini”. Kemudian untuk mereka yang egois, ya sama sajalah, mau demokrasi atau tidak kita tidak akan pernah berubah. Lagian yang penting saya bisa “hidup”.
Disadari atau tidak, ini adalah masalah mendasar umat Islam. Jika dibiarkan maka selamanya kita tidak akan pernah memiliki sikap, bahkan terhadap sesuatu yang secara hakikat haram sekalipun. Sebab selagi yang lain masih ikut, alasan apa yang mengharuskan kita menolak.
Menerima atau menolak, harus berdasarkan ilmu, dan celakalah mereka yang tidak berilmu, dan sengsaralah yang dengan ilmunya justru menyesatkan ummat.