Ada kata-kata indah mengatakan bahwa, hari ini adalah masa depanmu. Kalimat tersebut bukan saja indah dalam perasaan manusia namun juga merasuk dalam raga mereka yang berpikir. Siapa mereka yang berpikir, adalah orang-orang yang senantiasa mengharap keridoan Allah. Siapa yang tidak mengenal Rasulullah saw, beliau adalah manusia paripurna, kebencian yang ditujukan kepadanya dibalas dengan kasih sayang. Kemarahan dibalas dengan kelembutan. Mengapa?
Karena Rasulullah saw memiliki ilmu. Tak seorang manusia pun di muka bumi waktu itu yang memiliki kepastian akan masa depan Rasulullah saw kecuali mereka yang mempelajari kitab dan mengimaninya. Demikian dahsyatnya, rencana Allah SWT terhadap hamba terkasih-Nya itu memberikan ibrah seluas langit dan bumi yang tak pernah kering digali hikmah dan manfaatnya. Sehingga setiap gerak-gerik Rasulullah saw adalah ilmu dan dari sana ditemukan banyak disiplin teori ilmu pengetahuan.
Kita ingin membahas perang, Rasulullah saw adalah panglima perang. Membahas ekonomi beliau adalah pedagang sukses, berbicara ketatanegaraan atau politik, beliau adalah seorang khalifah. Suami teladan, beliau adalah suami terbaik atau ketika ingin membahas kesabaran, belaiu adalah orang yang tak pernah marah kepada siapapun hatta mereka yang ingin membunuhnya sekalipun.
Membahas sejarah Rasulullah saw maka rasa gembira yang meluap-luap takkan pernah terpisahkan. Akan tetapi bagaimana memahami sejarah tersebut untuk kemudian diimplementasikan pada kehidupan kontemporer, tak banyak di antara kita yang mempedulikannya.
Sekadar contoh, pemilu misalkan. Budaya yang dominan adalah nafsu untuk meraih kekuasaan. Bukan siapa-siapa melainkan kalangan elit umat Islam sendiri. Coba perhatikan, dari sekian partai, partai Islam ada berapa? Kemudian cermati sejarah mereka sepuluh tahun terakhir, dan kemudian saat ini. Bandingkan dengan kondisi sejarah dan sesuatu yang secara fundamental mengharuskan suatu keadaan tegak berdasarkan ajaran Islam.
Umat tergiring pada kondisi yang sangat problematis, dilematis, dan sangat materialis. Di sisi lain mereka yang hidup tanpa arah amat mudah kita jumpai, di bawah lorong-lorong jembatan. Pastinya, sedikit yang mempedulikan nasibnya. Belum mereka yang terpaksa menyanyi di terminal, kereta, dan angkot. Mereka tak sekolah, putus harapan dan optimismenya. Padahal tidak menutup kemungkinan mereka adalah yang memiliki potensi menjadi agen perubah untuk negeri ini.
Sementara, kaum elit, berlomba-lomba membuat partai. Memberikan banyak janji dan harapan. Sejauh ini, kondisi kultur masyarakat Jakarta misalkan, tak mampu berbuat banyak untuk mengeliminir kehidupan premanisme dengan segala bentuk kriminalitasnya. Lihat bagaimana semerawutnya lalu lintas di Jakarta?
Kalau kita telusuri, ternyata semua itu bermula dari rendahnya kualitas keilmuan kita. Sekiranya elit muslim mengerti, ya untuk apa berpecah-belah dengan banyak partai. Kenapa tidak bersatu untuk memperbaiki bangsa ini? Apa sih salahnya kalau rukun dan berbaris dalam satu barisan Islam yang ideal? Apa benar akan rugi kalau bersatu dengan saudara muslim yang lain?
Persaudaraan tatkala hijrah dimasa Rasulullah saw adalah sebenar-benar ukhuwah.Melalui momen demokrasi kali ini, mari jernihkan hati dan pikiran. Apa benar aspirasi umat Islam akan terakomodir oleh para caleg itu? Atau sebaliknya? Sejatinya umat Islam tidak perlu mendengar debat, orasi politik ataupun membaca brosur para caleg. Cukup dengan mengetahui aktivitas ibadah mereka saja. Apakah mereka shalat berjama’ah setiap harinya, membaca al-Qur’an atau mungkin shalat tahajud 3 kali dalam seminggu misalkan?
Jika tidak demikian, sanksi bagi kita untuk bisa memberikan kepastian kelayakan untuk dipilih. Akan tetapi dalam realitanya jarang di antara kita yang selektif dalam memilih. Semua tidak didasarkan pada pertimbangan akal dan berlandaskan ilmu. Tetapi nafsu. Jika ini dibiarkan maka umat Islam akan selalu termarginal, teraniaya dan tak berdaya selamanya. Karena ternyata ukhuwah juga hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berilmu. Wallahu a’lam.
Salam hangat untuk kita semua. Mari kita rapatkan barisan kibarkan bendera ukhuwah Islamiah. Islam bersatu,Islam kan jaya..