<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ilmu &#38; Kebenaran</title>
	<atom:link href="http://tamadun.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamadun.wordpress.com</link>
	<description>BANGKIT DENGAN ILMU</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jul 2009 02:12:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tamadun.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/eec19578afc42fbb151cc94e947546cd?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ilmu &#38; Kebenaran</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>KUALITAS DALAM PENDIDIKAN ISLAM</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2009/07/02/kualitas-dalam-pendidikan-islam/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2009/07/02/kualitas-dalam-pendidikan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 02:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/2009/07/02/kualitas-dalam-pendidikan-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Menyoal kualitas, memang tidak sederhana. Keslahan memahami kualitas akan memperparah keterpurukan. Lalu bagaimanakah sejatinya kualitas lembaga pendidikan Islam itu?
Secara bahasa kualitas berarti tingkat baik buruknya sesuatu . Pada era globalisasi, semua sektor kehidupan memandang kualitas sebagai suatu keniscayaan. Maka tidak heran, jika dalam banyak bidang, kompetisi menjadi suatu tradisi.
Pada dasarnya merupakan fitrah manusia, bahwa setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=133&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menyoal kualitas, memang tidak sederhana. Keslahan memahami kualitas akan memperparah keterpurukan. Lalu bagaimanakah sejatinya kualitas lembaga pendidikan Islam itu?</p>
<p>Secara bahasa kualitas berarti tingkat baik buruknya sesuatu . Pada era globalisasi, semua sektor kehidupan memandang kualitas sebagai suatu keniscayaan. Maka tidak heran, jika dalam banyak bidang, kompetisi menjadi suatu tradisi.<br />
Pada dasarnya merupakan fitrah manusia, bahwa setiap individu menginginkan kebaikan dan tentu yang terbaik. Demi terwujudnya wacana idealitas itulah sebuah komunitas, bangsa dan juga individu mengalami dinamika yang cukup menarik. Akan tetapi fitrah itu akan mengalami kendala manakala secara konsep, pandangan tentang kualitas didasarkan pada salah satu aspek secara berlebihan, dan pada saat yang sama mengabaikan aspek lainnya.<br />
Problem tersebut semakin terasa pada bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Apalagi mayoritas masyarakat memandang bahwa pendidikan adalah keahlian yang membangun mental profesional. Padahal di sisi lain, ajaran Islam sangat menekankan pendidikan tauhid atau aqidah. Sementara itu, realitas kehidupan dewasa ini belum dapat menerima aqidah sebagai pertimbangan mendasar, seseorang itu dikategorikan berkualitas atau tidak, pendidikan itu berkualitas atau tidak.<br />
Kondisi tersebut adalah kewajaran, sebab arus materialisme sudah sedemikian kuat dan massif. Pada saat yang sama umat Islam belum kembali menemukan tradisi berfikirnya (alam al-afkar) (Malik Bennabi Syurutu al-Nahdhah). Akibatnya tidak sedikit individu yang lemah secara keilmuan dan keimanan terperosok pada pandangan yang keliru, tidak terkecuali ketika menilai sesuatu berkualitas atau tidak.<br />
Masalah ini juga nampak begitu jelas dalam realitas sosial masyarakat. Di mana moral berada di belakang akal atau keinginan (nafsu). Terlebih dengan munculnya paradigma pendidikan sebagai “mesin” ekonomi abad modern, yang menjadikan siswa tak ubahnya konsumen yang harus mendapatkan keuntungan pragmatis demi eksistensi kedirian-nya di masa yang akan datang dengan berbagai skill-profesional sesuai dengan tuntutan zaman.<br />
Dengan demikian menjadi satu tuntutan mendesak untuk menjawab semua itu atas dasar nilai-nilai Islam yang syamil dan kamil ini. Konsep kualitas dengan apa yang dipahami masyarakat pada umumnya hendaknya tidak menjadi acuan, panduan ataupun titik tolak lembaga pendidikan Islam dalam menjalankan roda pendidikannya. Tetapi harus benar-benar sesuai atau paling tidak mengakomodir sebagian kecil prinsip-prinsip dasar kualitas dalam perspektif lembaga pendidikan Islam.<br />
Konsep Kualitas<br />
Dalam dunia bisnis secara sederhana dapat dipahami bahwa kualitas bagi produsen berkisar pada biaya dan produktivitas. Sedang bagi konsumen adalah Kualitas, harga dan pelayanan purna jual. Dengan demikian kualitas adalah satu-satunya hal yang paling penting bagi kedua belah pihak.<br />
Dengan demikian dalam dunia pendidikan, kualitas secara umum dapat dinilai dari tingkat daya guna dan kompetensi lulusan dalam menghadapi tantangan zaman. Lebih spesifik lagi, kualitas dalam lembaga pendidikan Islam menekankan pada konsistensi lulusan untuk berakhlak mulia dan pada saat yang sama mampu hidup secara mandiri dan kreatif.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=133&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2009/07/02/kualitas-dalam-pendidikan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAJAH PERADABAN</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2009/06/22/wajah-peradaban/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2009/06/22/wajah-peradaban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 14:52:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang pilpres 2009, banyak orang yang mulai menjadikan kesimpulan pribadinya sebagai asumsi kebenaran. Dengan dalih toleransi dan kerukunan bangsa, kalimat agama sering kali dijadikan statemen yang menggiring opini publik untuk menjauhinya. &#8220;Jangan gunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan politik, jangan bawa-bawa agama ke ranah politik&#8221;, dan lain sebagainya.
Pada dasarnya opini tidaklah dilarang, namun jika opini itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=131&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menjelang pilpres 2009, banyak orang yang mulai menjadikan kesimpulan pribadinya sebagai asumsi kebenaran. Dengan dalih toleransi dan kerukunan bangsa, kalimat agama sering kali dijadikan statemen yang menggiring opini publik untuk menjauhinya. &#8220;Jangan gunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan politik, jangan bawa-bawa agama ke ranah politik&#8221;, dan lain sebagainya.</p>
<p>Pada dasarnya opini tidaklah dilarang, namun jika opini itu menyinggung atau mungkin menyimpang dari konsep dasar sebuah keyakinan, maka opini tersebut layak untuk diabaikan. Pernyataan Tifatul Sembiring, Presiden PKS yang membenturkan jilbab dengan realitas masyarakat adalah salah satu bukti.</p>
<p>Kondisi itu, dalam kacamata filsafat disebut sebagai keadaan inferior. Keadaan inferior yang massif dan menjadi watak suatu komunitas disebut dengan inferiorisme. Contoh sederhana dari gejala inferiorisme ini adalah lemahnya kesadaran dan kepercayaan seorang muslim dalam menjalankan dan mendakwahkan nilai-nilai yang sejatinya diyakini dalam hati. </p>
<p>Dalam konteks kekinian, di mana kita akan menghadapi masa pilpres, sebagai seorang muslim, sudah barang tentu kita akan memilih capres/cawapres yang mencerminkan nilai-nilai Islam, sekecil apapun itu. Mengacu pada definisi peradaban yang mendasar, peradaban sebagai implementasi nilai-nilai keyakinan dalam segala segi kehidupan, maka sekecil apa pun sinyal keimanan, maka itulah orang yang beradab atas dasar keyakinannya.</p>
<p>Indonesia, sebagai negeri muslim terbesar di dunia, sangat layak untuk memiliki presiden yang berafiliasi secara jelas terhadap nasib umat Islam. Akan tetapi kita mengahadapi kendala yang cukup serius, yakni kondisi di mana umat Islam tidak lagi memandang simbol-simbol sebagai hal prinsip. Sebaliknya tidak sedikit yang memandangnya terbalik. Akibatnya opini yang sifatnya menyimpang seringkali terucap tanpa sadar.</p>
<p>Islam adalah din, juga way of life dan tentu saja juga peradaban. Momentum pilpres kali ini akan menentukan wajah peradaban umat Islam sendiri. Jika kaum muslimah yang berjilbab komitmen dengan keyakinannya tentu mereka akan memilih pemimpin yang mendukung jilbab itu sendiri. Akan tetapi, seringkali ilmu itu kandas dengan kepentingan sesaat, atau ketaatan yang melampaui kebenaran mendasar. </p>
<p>Saya tidak sedang mendukung salah satunya, tapi saya mengajak kita semua untuk berpikir kritis, anlitis dan konstruktif. Pemuda tidak boleh menjadi &#8220;pengasong&#8221; kepentingan elit politik, apalagi jika jelas-jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena bagaimanapun, pilihan kita pada pilpres nanti akan menentukan nasib umat Islam. </p>
<p>Pilihan kita, itulah wajah dan hati kita.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=131&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2009/06/22/wajah-peradaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UKHUWAH; BUTUH ILMU</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2009/04/13/ukhuwah-butuh-ilmu/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2009/04/13/ukhuwah-butuh-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 12:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Ada kata-kata indah mengatakan bahwa, hari ini adalah masa depanmu. Kalimat tersebut bukan saja indah dalam perasaan manusia namun juga merasuk dalam raga mereka yang berpikir. Siapa mereka yang berpikir, adalah orang-orang yang senantiasa mengharap keridoan Allah. Siapa yang tidak mengenal Rasulullah saw, beliau adalah manusia paripurna, kebencian yang ditujukan kepadanya dibalas dengan kasih sayang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=128&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada kata-kata indah mengatakan bahwa, hari ini adalah masa depanmu. Kalimat tersebut bukan saja indah dalam perasaan manusia namun juga merasuk dalam raga mereka yang berpikir. Siapa mereka yang berpikir<span id="more-128"></span>, adalah orang-orang yang senantiasa mengharap keridoan Allah. Siapa yang tidak mengenal Rasulullah saw, beliau adalah manusia paripurna, kebencian yang ditujukan kepadanya dibalas dengan kasih sayang. Kemarahan dibalas dengan kelembutan. Mengapa?</p>
<p>Karena Rasulullah saw memiliki ilmu. Tak seorang manusia pun di muka bumi waktu itu yang memiliki kepastian akan masa depan Rasulullah saw kecuali mereka yang mempelajari kitab dan mengimaninya. Demikian dahsyatnya, rencana Allah SWT terhadap hamba terkasih-Nya itu memberikan ibrah seluas langit dan bumi yang tak pernah kering digali hikmah dan manfaatnya. Sehingga setiap gerak-gerik Rasulullah saw adalah ilmu dan dari sana ditemukan banyak disiplin teori ilmu pengetahuan.</p>
<p>Kita ingin membahas perang, Rasulullah saw adalah panglima perang. Membahas ekonomi beliau adalah pedagang sukses, berbicara ketatanegaraan atau politik, beliau adalah seorang khalifah. Suami teladan, beliau adalah suami terbaik atau ketika ingin membahas kesabaran, belaiu adalah orang yang tak pernah marah kepada siapapun hatta mereka yang ingin membunuhnya sekalipun.</p>
<p>Membahas sejarah Rasulullah saw maka rasa gembira yang meluap-luap takkan pernah terpisahkan. Akan tetapi bagaimana memahami sejarah tersebut untuk kemudian diimplementasikan pada kehidupan kontemporer, tak banyak di antara kita yang mempedulikannya. </p>
<p>Sekadar contoh, pemilu misalkan. Budaya yang dominan adalah nafsu untuk meraih kekuasaan. Bukan siapa-siapa melainkan kalangan elit umat Islam sendiri. Coba perhatikan, dari sekian partai, partai Islam ada berapa? Kemudian cermati sejarah mereka sepuluh tahun terakhir, dan kemudian saat ini. Bandingkan dengan kondisi sejarah dan sesuatu yang secara fundamental mengharuskan suatu keadaan tegak berdasarkan ajaran Islam.</p>
<p>Umat tergiring pada kondisi yang sangat problematis, dilematis, dan sangat materialis. Di sisi lain mereka yang hidup tanpa arah amat mudah kita jumpai, di bawah lorong-lorong jembatan. Pastinya, sedikit yang mempedulikan nasibnya. Belum mereka yang terpaksa menyanyi di terminal, kereta, dan angkot. Mereka tak sekolah, putus harapan dan optimismenya. Padahal tidak menutup kemungkinan mereka adalah yang memiliki potensi menjadi agen perubah untuk negeri ini.</p>
<p>Sementara, kaum elit, berlomba-lomba membuat partai. Memberikan banyak janji dan harapan. Sejauh ini, kondisi kultur masyarakat Jakarta misalkan, tak mampu berbuat banyak untuk mengeliminir kehidupan premanisme dengan segala bentuk kriminalitasnya. Lihat bagaimana semerawutnya lalu lintas di Jakarta?</p>
<p>Kalau kita telusuri, ternyata semua itu bermula dari rendahnya kualitas keilmuan kita. Sekiranya elit muslim mengerti, ya untuk apa berpecah-belah dengan banyak partai. Kenapa tidak bersatu untuk memperbaiki bangsa ini? Apa sih salahnya kalau rukun dan berbaris dalam satu barisan Islam yang ideal? Apa benar akan rugi kalau bersatu dengan saudara muslim yang lain?</p>
<p>Persaudaraan tatkala hijrah dimasa Rasulullah saw adalah sebenar-benar ukhuwah.Melalui momen demokrasi kali ini, mari jernihkan hati dan pikiran. Apa benar aspirasi umat Islam akan terakomodir oleh para caleg itu? Atau sebaliknya? Sejatinya umat Islam tidak perlu mendengar debat, orasi politik ataupun membaca brosur para caleg. Cukup dengan mengetahui aktivitas ibadah mereka saja. Apakah mereka shalat berjama&#8217;ah setiap harinya, membaca al-Qur&#8217;an atau mungkin shalat tahajud 3 kali dalam seminggu misalkan?</p>
<p>Jika tidak demikian, sanksi bagi kita untuk bisa memberikan kepastian kelayakan untuk dipilih. Akan tetapi dalam realitanya jarang di antara kita yang selektif dalam memilih. Semua tidak didasarkan pada pertimbangan akal dan berlandaskan ilmu. Tetapi nafsu. Jika ini dibiarkan maka umat Islam akan selalu termarginal, teraniaya dan tak berdaya selamanya. Karena ternyata ukhuwah juga hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berilmu. Wallahu a&#8217;lam.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=128&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2009/04/13/ukhuwah-butuh-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DEMOKRASI, harus bagaimana?</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2009/04/01/demokrasi-harus-bagaimana/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2009/04/01/demokrasi-harus-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 02:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/2009/04/01/demokrasi-harus-bagaimana/</guid>
		<description><![CDATA[Benci, antusias, tidak tahu mungkin itulah tiga kelompok ekstrem umat menanggapi sistem demokrasi di negeri ini. Tetapi hal esensi yang sebenarnya perlu dipahami adalah dasar, sejarah, perkembangan dan orientasi demokrasi itu sendiri. Setelah semua terjawab baru kita bisa duduk bersama untuk kemudian membahas langkah tepat apa yang mesti kita lakukan.
Kemarin 31 Maret 2009 dalam sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=122&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;">Benci, antusias, tidak tahu mungkin itulah tiga kelompok ekstrem umat menanggapi sistem demokrasi di negeri ini. Tetapi hal esensi yang sebenarnya perlu dipahami adalah dasar, sejarah, perkembangan dan orientasi demokrasi <span id="more-122"></span>itu sendiri. Setelah semua terjawab baru kita bisa duduk bersama untuk kemudian membahas langkah tepat apa yang mesti kita lakukan.</p>
<p style="text-align:left;">Kemarin 31 Maret 2009 dalam sebuah kesempatan di istana rakyat (gedung DPR, MPR) saya turut hadir dalam sebuah diskusi singkat dengan salah seorang penentu kebijakan MPR.</p>
<p style="text-align:left;">Ada alasan praktis mengapa kita harus berada di parlemen. Perjuangan umat ini memerlukan naungan yuridis yang kokoh. Oleh karena itu umat Islam harus bisa berperan sebagai pemimpin manusia. Bukan hanya pemimpin orang bertaqwa.</p>
<p style="text-align:left;">Perhatikan, sepintas statemen tadi enak dan indah sekali. Tapi ingat memimpin manusia itu bukanlah sesuatu yang mudah. Sesama muslim saja sering terjadi pertikaian, bagaimana mungkin jika dengan yang lain.<br />
Terlepas dari statemen tadi, al-Qur&#8217;an mengajarkan agar kita berdoa untuk dijadikan pemimpin orang-orang yang bertaqwa. Kenapa?<br />
Lihat bangsa kita saat ini, ketika rakyatnya sudah tidak lagi menjadikan taqwa sebagai urusan utama dalam hidupnya. Berbagai norma, undang-undang, amandemen dan apapun namanya tidak pernah sampai pada maksudnya. Sebaliknya, anggaran terbuang untuk itu semua.<br />
Melihat realitas demikian saya rasa tidak salah jika ada sebagian membenci demokrasi, tetapi bagi mereka yang mendapat keuntungan dengan sistem tersebut &#8220;oh kita perlu juga turun ke sini&#8221;. Kemudian untuk mereka yang egois, ya sama sajalah, mau demokrasi atau tidak kita tidak akan pernah berubah. Lagian yang penting saya bisa &#8220;hidup&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">Disadari atau tidak, ini adalah masalah mendasar umat Islam. Jika dibiarkan maka selamanya kita tidak akan pernah memiliki sikap, bahkan terhadap sesuatu yang secara hakikat haram sekalipun. Sebab selagi yang lain masih ikut, alasan apa yang mengharuskan kita menolak.</p>
<p style="text-align:left;">Menerima atau menolak, harus berdasarkan ilmu, dan celakalah mereka yang tidak berilmu, dan sengsaralah yang dengan ilmunya justru menyesatkan ummat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=122&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2009/04/01/demokrasi-harus-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembinaan SDM Pendidikan</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2009/03/12/pembinaan-sdm-pendidikan/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2009/03/12/pembinaan-sdm-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 02:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[PEMBINAAN SDM PENDIDIKAN
 
 Pendidikan adalah nyawa kehidupan. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Melalui pendidikan suatu peradaban tegak dan menghegemoni. Sehingga untuk bangkit dan menjadi yang terbaik pendidikan adalah tolok ukur dari suatu keberhasilan.
 Di sini sekilas disajikan proses pembinaan yang telah berlangsung dalam sejarah peradaban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=120&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">PEMBINAAN SDM PENDIDIKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:200%;"><strong><span lang="IN"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Pendidikan adalah nyawa kehidupan. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Melalui pendidikan suatu peradaban tegak dan menghegemoni. Sehingga untuk bangkit dan menjadi yang terbaik pendidikan adalah tolok ukur dari suatu keberhasilan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Di sini sekilas disajikan proses pembinaan yang telah berlangsung dalam sejarah peradaban Islam<span id="more-120"></span>. Dimulai sejak pembinaan dari zaman Nabi, kemudian sahabat dan selanjutnya Imam Ghazali. Ada beberapa hal yang mendasari mengapa saya tidak mencantumkan pembinaan di zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan mengapa memilih Imam Ghazali. Pertama peneliti berkeyakinan bahwa pendidikan atau pembinaan yang berlangsung pasca khulafaur Rasydin tidak terlalu banyak mengalami tantangan eksternal yang cukup berarti. Hal ini dapat dilihat dari gairah para penuntut ilmu yang begitu antusias dan sangat produktif. Sehingga banyak sekali karya monumental yang telah mereka hasilkan dan bermanfaat hingga masa sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Sementara pada zaman Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali tantangan eksternal yang melanda umat Islam sungguh sangat kompleks. Pada saat yang sama kondisi internal umat Islam secara umum sedang mengalami instabilitas. Lebih dari itu Al-Ghazali sebagai ulama telah mampu merefleksikan nilai-nilai keyakinan itu dalam kehidupannya. Dia menulis kitab monumentalnya <em>Ihya’ Ulumuddin</em> pada saat dia telah memahami dan menjalani sampai pada akhirnya dapat merasakan nikmat merengkuh dan memeluk kebenaran ajaran Islam.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Mengadaptasi keberhasilan para ulama terdahulu dalam melakukan proses pendidikan untuk kepentingan masa depan umat Islam kontemporer bukanlah suatu kekeliruan. Saya melihat masalah fundamental yang dialami umat Islam khususnya institusi pendidikan adalah lemahnya pengetahuan dan keyakinan akan kebenaran konsep pendidikan dalam Islam. Hal ini dapat kita lihat dari kualitas dan orientasi pendidikan yang kini banyak mengalami pergeseran. Akibatnya alumni lembaga pendidikan Islam belum dapat diharapkan apalagi dijadikan sebagai figur <em>uswatun hasanah.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Beralih pada masa sekarang berdasarkan ketetapan MPR RI No. IV/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (1999:66) telah ditetapkan bahwa visi Bangsa Indonesia, yaitu : terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Untuk mewujudkan visi dimaksud tentu manajemen memiliki peran penting, utamanya manajemen sumber daya manusia. Tetapi perlu diketahui bahwa dalam sejarahnya manajemen tidak lepas dari pengaruh agama, tradisi, adat istiadat, dan sosial budaya. Sebagai agama wahyu Islam memandang manajemen berdasarkan pada teologi, yakni potensi positif dalam setiap insan yang dilukiskan dengan istilah <em>hanif.</em><span> </span>Yakni sebuah watak yang akan menjadi penyebab manusia untuk cenderung memilih yang baik dan benar dalam seluruh kehidupannya. Sedangkan penilaian terhadap baik dan buruk akan sangat tergantung terhadap latar belakang kehidupannya.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Mewujudkan manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin hanya bisa dicapai melalui pendidikan yang dikemas dengan manajemen yang berdasarkan teologi Islam<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Terutama dalam rangka melakukan perlindungan bangsa atas penetrasi budaya Barat yang destruktif. Dengan demikian maka Manajemen SDM pendidikan merupakan satu sisi yang harus mendapat perhatian serius setiap elemen bangsa ini khususnya kepala sekolah dan guru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Kepala sekolah dan guru dalam hal ini adalah ujung tombak dari setiap kebijakan atas semua program pendidikan di tanah air. Aturan main, sistem, perundang-undangan yang diberlakukan dalam dunia pendidikan muaranya kembali pada makhluk yang bernama guru atau SDM pendidikan. SDM pendidikanlah yang akan melaksanakan secara operasional segala bentuk pola, dan geraknya sehingga tujuan pendidikan benar-benar dapat terealisasi dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Oleh karena itu pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia pendidikan sebagai suatu proses pemberdayaan, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia &#8211; yang menguasai pengetahuan, keterampilan, keahlian serta wawasan yang sesuai dengan perkembangan IPTEK – menjadi sebuah keniscayaan. Wawasan yang diperlukan dalam era gobalisasi adalah kemampuan untuk memandang jauh ke depan, wawasan mutu dan kekaryaan, serta wawasan inovasi dan perubahan yang sesuai dengan nilai dan sikap yang berkembang dalam masyarakat.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Secara sederhana, Manajemen Sumber Daya Manusia pendidikan diperlukan setidaknya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai SDM pendidikan itu sendiri. Apakah guru-guru telah memiliki kualifikasi yang memadai? Apakah guru-guru memiliki kualitas profesionalisme? Dan apakah guru-guru benar-benar dapat menjadi figur bagi siswa-siswinya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Lahirnya MSDM tidak lain adalah dalam rangka meningkatkan nilai tambah berupa produktivitas dan kepuasan<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk hal tersebut adalah dengan melakukan pembangunan di bidang pendidikan nasional, khususnya dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Untuk mewujudkan semua itu peran SDM dalam hal ini adalah guru merupakan syarat mutlak yang nantinya akan menentukan arah perjalanan bangsa selanjutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Suatu fakta bahwa pendidikan telah memberikan hasil yang memuaskan dalam mengatasi persoalan-persoalan dan hajat hidup orang banyak, baik di bidang perbaikan sistem politik, sosial, ekonomi, maupun sosial budaya. Disebutkan juga bahwa pembaruan yang menyeluruh terjadi di Jepang karena adanya pengaruh investasi pendidikan. Dengan demikian pendidikan memiliki arti dan posisi yang mendasar dan mutlak yang menuntut perhatian serius. Sehingga tidak berlebihan jika posisi pendidikan seharusnya dijadikan sebagai <em>“public good”.</em><span class="MsoFootnoteReference"> <a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[6]</span></span><!--[endif]--></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Sehingga bukan suatu hal yang aneh dan perlu dicurigai<span> </span>jika kemudian lembaga pendidikan Islam dalam hal ini pondok pesantren turut berupaya untuk dapat mengemas, mendesain dan menampilkan institusinya sebagai lembaga pendidikan yang terbaik dengan tetap menjadikan normativitas Islam sebagai landasan. Oleh karena itu upaya penerapan manajemen yang tepat dan benar &#8211; manajemen sumber daya manusia pendidikan -<span> </span>adalah suatu aspek yang perlu mendapat perhatian serius dari para pengelola pesantren, masyarakat dan pemerintah. Jika pemerintah bersinergi untuk melestarikan nilai dan budaya negeri ini, maka pesantren sebagai lembaga pendidikan formal tertua dan terbesar di tanah air sangat layak untuk dipertahankan, dikembangkan dan ditingkatkan. Sebab pesantren adalah ciri khas pendidikan di tanah air yang telah mengiringi sejarah perjalanan bangsa ini.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span lang="IN">2. Manusia dan Pendidikan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Berbicara pendidikan tidak bisa lepas dari bahasan mengenai manusia.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Karena subyek dan obyek dalam pendidikan itu sendiri tiada lain kecuali manusia. Maka pengetahuan komprehensif mengenai manusia menjadi pokok permasalahan yang harus segera terpecahkan. Hal ini tentu penting mengingat arah pendidikan akan ditentukan oleh pemahaman individu terhadap hakekat manusia itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Ismail Yusanto menegaskan bahwa sudah semestinya setiap manusia memahami hakikat hidupnya di dunia. Dalam perspektif Islam hidup manusia merupakan perumusan komprehensif dari tiga pertanyaan mendasar <em>Dari mana manusia berasal, untuk apa manusia hidup, serta kemana manusia setelah mati?</em> Pemahaman ini akan menentukan corak atau gaya hidup seseorang.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Dalam Islam menjadi sebuah keniscayaan untuk memahami secara baik akan hakikat manusia. Dan tidak ada bahasan komprehensif yang paling tepat mengenai manusia melainkan dalam Islam itu sendiri. Ini berarti manusia yang memahami hakikatnya adalah individu yang memahami Islam dengan baik. Sehingga dalam operasionalnya nanti pendidikan Islam harus selalu memberi arah terhadap hidup kita, agar umat Islam terhindar dari serbuan pengaruh-pengaruh pemikiran asing yang menyesatkan.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Pendidikan Islam menghendaki terlahirnya manusia yang baik, yakni manusia yang memelihara dan menjaga nilai-nilai kefitrahannya. Fitrah dimaksud adalah komitmen jiwanya akan status dan hakikat dirinya di tengah kosmos yang luas ini. Sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an Surat al-A’raf ayat 172 yang artinya :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:39.85pt;text-align:justify;"><em><span lang="IN">Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah aku ini Tuhanmu?&#8221; mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi&#8221;. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Berdasarkan pada ayat tersebut Sahminan Zaini menegaskan bahwa pendidikan Islam adalah sebuah upaya yang berorientasi pada pengembangan fitrah manusia dengan ajaran agama Islam, agar terwujud kehidupan manusia yang makmur dan bahagia.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Bahkan dalam Islam tujuan pendidikan adalah untuk merealisasikan misi Tuhan dibalik penciptaan manusia itu sendiri.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span lang="IN"><span> </span></span></strong><span lang="IN">Hal ini tentu berbeda dengan pengertian pendidikan yang dipahami oleh kebanyakan orang. </span><span lang="IN">Dimana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadian yang sesuai dengan nilai-niai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Istilah pendidikan juga dipahami sebagai bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Menurut UU No. 20 th 2003 Pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Lebih mendalam adalah tujuan pendidikan yang ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas bahwa </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><em><span lang="IN">tujuan pendidikan menurut Islam bukanlah untuk menghasilkan warga negara yang baik dan tidak pula pekerja yang baik. Sebaliknya tujuan tersebut adalah untuk menciptakan manusia yang baik. Sehingga hal utama yang perlu ditekankan (dalam pendidikan) adalah nilai manusia sebagai manusia sejati bukan nilai manusia sebagai entitas fisik yang diukur dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaannya bagi negara masyarakat dan dunia.</span></em><a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Secara lebih mudah untuk memahami tujuan pendidikan Islam adalah apa yang ditulis oleh Adnin Armas, M.A dalam salah satu artikelnya bahwa tujuan utama penddidikan Islam adalah mencari rido Allah SWT. Yakni dengan terlahirnya individu-individu yang baik, bermoral, berkualitas sehingga dapat memberikan manfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, negara dan umat manusia secara keseluruhan. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan sistem yang mendukung terlahirnya manusia yang baik, yakni terwujudnya kedisiplinan jiwa dan akal. Sehingga akan tercipta integritas anatara ilmu dan amal, fikir dan dzikir, akal dan hati yang kesemua itu benar-benar dapat terwujud manakala anak didik telah dapat menjadikan Islam sebagai pandangan hidup atau paradigmanya dalam memandang kehidupan ini<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>Sekalipun terdapat perbedaan<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>, secara hakiki tujuan pendidikan dimanapun adalah untuk peningkatan kualitas. Akan tetapi sebagai muslim sesuatu yang sangat mendasar dan tidak boleh alpa dari tujuan pendidikan adalah kesadaran akan hakikat dirinya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah-Nya. Mengacu pada hal tersebut, dapat kita temukan banyak catatan sejarah mengenai pendidikan. Mulai masa pra Islam sampai masa modern kontemporer. Salah satu wujudnya adalah pembinaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"><span> </span>Secara bahasa pembinaan memiliki makna penyempurnaan atau perbuatan membina<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ini berarti bahwa pembinaan telah mewakili kata pemberdayaan dan pengembangan. Sebab keduanya berujung pada tercapainya keadaan lebih baik atau kesempurnaan yang menjadi sebuah tuntutan dan tujuan dari suatu proses. Dalam proses pembinaan setidaknya ada tiga hal mendasar yang memiliki tingkat keterkaitan yang erat, yakni prinsip, metode dan materi yang kemudian dikemas dalam <em>planning, actuating</em> dan <em>evaluating</em> yang benar.<strong></strong></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> H. Sufyarma <em>Kapita Selekta, </em>29.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="ES"> M. Munir dan Wahyu Ilaihi <em>Manajemen Dakwah</em> (Jakarta : Prenada Media 2006), 41.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Islam telah mengajarkan mengenai manajemen sejak kedatangannya. Setidaknya pendekatan ilmu manajemen ini terdapat dalam tiga prinsip pokok, yaitu <em>Tauhid, Syariah </em>dan <em>akhlak</em>. Hal ini karena setiap perbuatan melahirkan konsekuesni-konsekuensi. Lihat Q.S. Al-Isra : 36</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> H. Sufyarma <em>Kapita Selekta, </em>29 30.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Nanang Fattah <em>Landasan Manajemen Pendidikan</em> (Bandung : PT. </span><span lang="FI">Remaja Rosda Karya 1996), 15.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Sam M. Chan &amp; Tuti T. Sam <em>Analisis Swot Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah</em> (Jakarta Rajawali Pers 2006), 53.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Enung K. Rukiati &amp; Fenti Hikmawati <em>Sejarah Pendidikan,</em>103 – 113.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Ada beberapa pandangan tentang manusia antara lain; <strong>Psikoanalitik tradisional</strong> yang menganggap manusia digerakkan oleh dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif. Pandangan <strong>Humanis</strong> yang menganggap manusia sebagai pribadi individu yang terus berjalan atau tidak statis atau terus-menerus berubah. Kemudian yang terakhir pandangan <strong>Behavioristik</strong> yang menganggap manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang perilakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang datang dari luar.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Muhammad Ismail Yusanto, dkk <em>Menggagas Pendidikan Islami</em> (Bogor : al-Azhar Press 2004), 17.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="FI"> Kemas Badaruddin <em>Filsafat Pendidikan Islam (Analisis pemikiran Prof.Dr. Syed Muhammad al-Naquib al-Attas)</em> (Jogjakarta : Pustaka Pelajar 2007), 18.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="ES"> Ibid, 35</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="ES"> Q.S. al-Dzariyat : 56</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Hasbullah <em>Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan </em>(Jakarta : PT. </span>Raja Grafindo 2005),1.</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ibid,-</p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Jurnal Islamia (Th II No 6 2005) 76</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Majalah Sabili (No. 5 Th XV Februari 2008) 44 &#8211; 45</p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Akan tetapi tujuan pendidikan dalam Islam dan Negara RI tidak terdapat pertentangan yang mendasar. Hal ini dapat dilihat dalam UU No. 2/99 Bab II Pasal 4 yang berbunyi “mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya”<em> </em>Maksud manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. Lihat Sam M. Chan &amp; Tuti T. Sam dalam karyanya <em>Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah</em> (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 2006) 17</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pius Abdillah &amp; Danu Prasetya <em>Kamus Lengkap Bahasa Indonesia</em> (Surabaya Arkola), 355.</p>
</div>
</div>
<p><!--more--><!--more--><!--more--><!--more--><!--more--><!--more--><strong></strong><strong></strong><!--more--><!--more--><!--more--><!--more--><!--more--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=120&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2009/03/12/pembinaan-sdm-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Muslim Sejati</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2009/03/05/menjadi-muslim-sejati/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2009/03/05/menjadi-muslim-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 03:11:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Sudah bukan rahasia lagi setiap kita sangat mendambakan kesempurnaan Islam itu sendiri. Kita pun berupaya untuk itu. Akan tetapi sayang dalam keseharian seringkali apa yang kita idamkan itu tak dapat kita rawat dengan baik.
Hal ini adalah kisah nyata yang kualami dalam beberapa bulan yang lalu. Ada seorang akhwat yang sejak awal memiliki cita-cita membangun Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=118&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sudah bukan rahasia lagi setiap kita sangat mendambakan kesempurnaan Islam itu sendiri. Kita pun berupaya untuk itu. Akan tetapi sayang dalam keseharian seringkali apa yang kita idamkan itu tak dapat kita rawat dengan baik.</p>
<p>Hal ini adalah kisah nyata yang kualami dalam beberapa bulan yang lalu. Ada seorang akhwat yang sejak awal memiliki cita-cita membangun Islam yang mulia. Kamipun berlomba untuk menjadi yang terbaik. Akan tetapi ketika masa kuliah kamipun harus berpisah. Dia bergabung dengan salah satu organisasi Islam dan aku pun demikian.</p>
<p>Waktu berlalu, komunikasi amat jarang kami lakukan. Karena kami komitmen dengan keyakinan kami. Waktu pun akhirnya mendekatkan kami pada hari saat komitmen itu harus direalisasikan. Aku sendiri masih ragu tapi aku berupaya untuk membuktikannya. Mental pun ku persiapkan, dan aku berdoa siang malam.</p>
<p>Tapi diluar dugaan, dengan sendirinya dia mengundurkan diri dengan alasan kita beda fikrah, dan jika dilanjutkan khawatir aku melarang dia berdakwah dengan statusku yang akan menjadi imam bagi dirinya.</p>
<p>Problem cinta adalah problem umum yang dialami oleh hampir setiap manusia. Zaman Rasul pun tragedi menerima dan menolak cinta juga pernah terjadi. Tetapi di zaman itu bukan karena beda fikrah alias organisasi tapi karena memang dikhawatirkan terjadi mudharat yang lebih besar, yakni perceraian.</p>
<p>Kisah demikian sejatinya tidak saja marak dalam masalah private antar individu. Tetapi kini juga kian menjadi dengan banyaknya ormas Islam di negeri ini. Jika kita berpikir sejenak, apa yang kurang di negeri ini? Umat Islam mayoriti, ormasnya besar, elegan ada di berbagai sektor kehidupan. Tetapi mengapa hingga detik ini Islam di Indonesia masih dirasa asing? Aneh dan bahkan yang cenderung mudah berkonflik itu juga umat Islam&#8230;.</p>
<p>Disini tidak ada maksud menggeneralisir masalah pribadi ke problem umum. Karena bagiku semua yang menimpa diri ku dan tidak sesuai dengan rencana adalah anugerah besar dari Allah. Karena Allah saja yang lebih tau mana yang terbaik buat hamba-Nya.</p>
<p>Tetapi satu hal yang sering kurisaukan mengapa umat Islam di negeri ini masih asyk hidup di atas sikap arogansi, gengsi, dan tak simpati?</p>
<p>Yah ini hanyalah kekesalan, dan tak akan pernah terjadi peruahan sejauh diri sendiri tak memulainya. Saudaraku aku memberikan maaf kepada siapapun dan janganlah kalian menganggap aku sebagai musuhmu. Teman-teman di organisasi lain, apa yang kita perjuangkan adalah Islam. Dan kalau hati, sikap,ucapan  ini pernah menggoreskan luka di hati dan perasaanmu, berkenanlah membukakan pintu maaf bagiku.</p>
<p>Aku sangat yakin bahwa muslim sejati adalah muslim yang bisa memberi maaf dan menjaga amanah, ukhuwah dengan sesamanya. Tidak saling berkompetisi mencari pujian, jabatan dan kekayaan semu. Muslim sejati akan mengantarkan kita pada keridoan-Nya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=118&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2009/03/05/menjadi-muslim-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UMAT ISLAM BERSATU?</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/27/umat-islam-bersatu/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/27/umat-islam-bersatu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 01:28:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Umat Islam bersatu itu bisa, tapi berafiliasi dengan PKS pada pemilu 09 bukan itu yang dimaksud bersatu.
Bersatu dalam Islam melalui momentum Hijriah  adalah bersatu untuk bersama-sama mengokohkan tali ukhuwah intern umat Islam. Bersama-sama menyelamatkan agama agar terhindar dari gangguan yang membahayakan umat Islam. Jika umat Islam Indonesia diseru untuk bersatu kemudian terbatas hanya pada apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=116&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Umat Islam bersatu itu bisa, tapi berafiliasi dengan PKS pada pemilu 09 bukan itu yang dimaksud bersatu.</p>
<p>Bersatu dalam Islam melalui momentum Hijriah  adalah bersatu untuk bersama-sama mengokohkan tali ukhuwah intern umat Islam. Bersama-sama menyelamatkan agama agar terhindar dari gangguan yang membahayakan umat Islam. Jika umat Islam Indonesia diseru untuk bersatu kemudian terbatas hanya pada apa yang dilakukan oleh satu kelompok saja tentu bukanlah satu hal yang bijaksana. Karena tanpa diserupun sejauh umat Islam menilai perlu didukung dan mendesak untuk segera diwujudkan rencana tersebut tentu mereka akan melakukan dengan sendirinya.</p>
<p>Sejauh ini kemiskinan hanya menjadi penghias layar kaca tatkala tampil program berita dan kriminal. Selebihnya DPR dan Pemerintah sibuk dengan berbagai macam kepentingan yang tentu mereka klaim sebagai kepentingan rakyat. Giliran pemilu, umat Islam diajak bersatu, di sana ada kemiskinan, di sini ada kriminalitas, dan di jauh sana ada kebejatan moral. Ayo dukung kami, dukung kami bersatulah bersama kami, kita berantas semua itu.</p>
<p>Itulah kira-kira nanti kalimat-kalimat yang akan terlontar dari bibir-bibir manis para caleg di negeri ini. Padahal kalau mereka memang konsisten dengan ucapannya itu kenapa dana untuk kampanye di tempat lain lebih dia pentingkan dari pada menyalurkannya untuk apa yang mereka ucapkan itu. Jika ya, segera jangan nunggu nanti. Ah, saudara-saudaraku, hati-hati kita harus sedikit mengerti kalau tidak mau gigit jari lagi.</p>
<p>Itu baru kampanye, kita amat awam untuk bisa mengerti apa itu UU pemilu, apa itu parelementary threatshould, dll? Dan kita tidak punya kepentingan untuk mengerti itu. Tapi ketahuilah ketidaktahuan itulah yang sejatinya menjadi sumber kesengsaraan bangsa ini.</p>
<p>Sekarang yang perlu kita lakukan adalah sama-sama waspada untuk memilih, siapa yang akan kita jadikan wakil kita. Akan lebih baik jika kemudian kita berafiliasi pada satu partai Islam dengan ba&#8217;iat untuk sekuat tenaga menjadikan umat Islam Indonesia sejahtera. Saya kira transaksi ini lebih jelas dari pada kita hanya mendengar ungkapan indah yang tak jelas kapan dan bagaimana akan terwujud.</p>
<p>Cukuplah derita kita, jangan sampai anak, adik dan saudara kita tidak bisa sekolah seperti kita. Dan pemilu 2009 menentukan apakah anak,adik kita akan sekolah atau tidak. Dengan demikian seruan saya adalah mari belajar memahami masalah dan jangan terjebak pada arus informasi yang ada.</p>
<p>Semoga umat Islam Indonesia bisa benar-benar bersatu dan sejahtera. aminnnn.</p>
<p>Wahai para partai Islam, jangan menharap kami bersatu, kalian dululah yang harus bersatu. Munafik itu namanya jika kalian menulis harus bersatu sementara anda membenci dan tidak berupaya untuk bersatu dengan partai Islam lainnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=116&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/27/umat-islam-bersatu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Epistemologi Islam</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/25/epistemologi-islam/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/25/epistemologi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 22:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini term epistemologi begitu akrab menyapa gendang telinga umat Islam, terkhusus generasi muda di berbagai kampus di negeri ini. Term ini semakin menjadi tidak asing ketika lahir sebuah organisasi para cendekiawan muslim muda Indonesia yang bernama INSISTS. Pun demikian epistemologi bukanlah kajian yang dapat dipahami dengan sepintas, sekali dua kali diskusi. Kajian ini membutuhkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=113&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Akhir-akhir ini term epistemologi begitu akrab menyapa gendang telinga umat Islam, terkhusus generasi muda di berbagai kampus di negeri ini. Term ini semakin menjadi tidak asing ketika lahir sebuah organisasi para cendekiawan muslim muda Indonesia yang bernama INSISTS. Pun demikian epistemologi bukanlah kajian yang dapat dipahami dengan sepintas, sekali dua kali diskusi. Kajian ini membutuhkan kesungguhan yang serius dari kita semua. Sebab sangat tidak menutup kemungkinan sebagian besar di antara kita berada dalam posisi tidak memahami epistemologi di saat term itu sudah sering atau bahkan mungkin begitu mudah kita mengucapkannya.</p>
<p>Tulisan kali ini tidak berupaya  menjelaskan epistemologi secara rijid. Akan tetapi hanya sebuah ulasan &#8220;dangkal&#8221; yang diharapkan mampu memberikan satu stimulasi kepada para aktivis dakwah untuk sedini mungkin memahami makna dan urgensitas epistemologi Islam dalam proyek menegakkan kembali peradaban Islam.</p>
<p>Secara sederhana epistemologi dapat kita pahami sebagai ilmu yang menjadikan ilmu sebagai objek kajiannya. Ilmu yang mempelajari ilmu, yang meliputi; keilmiahan, validitas, otoritas, kredibilitas sebuah ilmu dalam mengungkap satu misteri atau permasalahan.</p>
<p>Hermeneutika misalnya, apakah ilmu ini layak diterapkan untuk memahami al-Qur&#8217;an? di sini kita butuh yang namanya epistemologi. Kalau memang layak kenapa tidak dihasilkan oleh ulama kita terdahulu atau kontemporer? Kenapa harus Barat yang menciptakan dan mengembangkan ilmu hermeneutika itu?</p>
<p>Suharsono menjelaskan bahwa epistemologi (ushul al-&#8217;ilm) merupakan satu perangkat utama yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka menegakkan kembali peradaban Islam. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan adanya epistemologi Islam secara perlahan atau pasti umat akan mengerti superioritas ajaran Islam yang selam ini justru diyakini sebaliknya.</p>
<p>Epistemologi adalah sebuah cara agar kita dapat menggapai apa yang kita harapkan. Ada sebuah ilustrasi menarik terkait dengan pemahaman epistemologi ini.</p>
<p>Suatu saat anda berlibur menuju pantai, di sana anda melihat hamparan pasir, dan luasnya laut serta kokohnya gunung dan batu karang di sekitar laut. Pada saat yang sama, kemudian timbul keinginan untuk mendapat ikan, mutiara dan rumput laut. Mungkinkah kita akan mendapatkan semua itu tanpa berupaya mencari sarana dan menyusun strategi untuk mewujudkannya? Nah, berbagai sarana dan strategi untuk mewujudkan keinginan itulah yang selanjutnya disebut epistemologi.</p>
<p><strong>Epistemologi Islam</strong></p>
<p>Epistemologi Islam bersumber pada indra, akal dan wahyu. Berbeda dengan Barat, sumber kebenaran mereka (epistemologi Barat) adalh rasio. Sehingga segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh indera dan dijelaskan secara rasional dianggapnya nisbi. Sehingga pantas jika kemudian <span style="font-size:small;">Nietzsche<strong> </strong>berteriak <strong>“</strong><em>God is dead”.</em></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Berbeda dengan Islam, semakin tinggi pengetahuan (ilm) seseorang dia semakin bertaqwa kepada Allah Swt. Tetapi faktanya berbeda, sekarang malah banyak sarjana muslim berpikir seperti orang Barat. Bahkan yang lulus S3 juga tidak lebih sholeh dari mereka yang lulus SMA.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Disinilah pentingnya kita memahami epistemologi Islam itu. Dalam sebuah kunjungan ilmiahnya di UI beberapa </span><span style="font-size:small;">waktu yang lalu, ketika m<span style="font-size:11pt;font-family:Georgia,serif;">enjawab pertanyaan seorang wartawan dalam diskusi tersebut, Prof. Wan menjelaskan, bahwa problem paling mendasar umat Islam adalah problem kekeliruan dalam keilmuan (<em>confusion of knowledge</em>), bukan problem kebodohan. Saat ini begitu banyak para cerdik pandai yang dimiliki umat Islam, tetapi memiliki ilmu yang keliru.<span>  </span>Akibatnya, konsep adil dan adab sebagaimana dikehendaki oleh Islam tidak bisa diterapkan. Sebagai contoh,<span>  </span>konsep demokrasi yang menempatkan semua manusia pada derajat yang sama dalam pengambilan keputusan. Orang yang saleh disamakan dengan orang jahat; orang pandai disamakan derajatnya dengan dengan orang bodoh. “Jika untuk masuk UI ada seleksi, apakah tidak perlu dipikirkan, untuk memberikan suara pun nantinya perlu ada seleksi,” kata Prof. Wan, sambil mengimbau agar para pakar politik memikirkan masalah ini lebih lanjut. </span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia,serif;"><strong>Penutup</strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia,serif;">Secara sederhana epistemologi Islam sangat mendesak untuk dimiliki jika kita memang benar-benar merindukan tegaknya peradaban Islam itu sendiri. Tanpa itu, kita hanya akan terjebak pada ritual, seremonial, responsif dan reaktif serta tidak produktif.</span></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=113&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/25/epistemologi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BHP! Jangan Kaget!!!</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/24/bhp-jangan-kaget/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/24/bhp-jangan-kaget/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 23:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Bermain di tengah penderitaan rakyat? Itu sejak dulu
Ngumpulin duit dengan nipu rakyat? Itu hobi kaum berdasi
Ngamuk kalau ada yang tidak cocok? Itu rakyat kita, masih malas belajar.
Belakangan isu BHP mencuat ke permukaan, pro-kontra pun mulai bermunculan. Berbagai macam prediksi yang cenderung &#8220;pesimis&#8221; dengan BHP  lebih banyak diakomodir media dari yang sebaliknya. Akan tetapi seperti apapun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=111&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bermain di tengah penderitaan rakyat? Itu sejak dulu</p>
<p>Ngumpulin duit dengan nipu rakyat? Itu hobi kaum berdasi</p>
<p>Ngamuk kalau ada yang tidak cocok? Itu rakyat kita, masih malas belajar.</p>
<p>Belakangan isu BHP mencuat ke permukaan, pro-kontra pun mulai bermunculan. Berbagai macam prediksi yang cenderung &#8220;pesimis&#8221; dengan BHP  lebih banyak diakomodir media dari yang sebaliknya. Akan tetapi seperti apapun media bercerita kita perlu kritisi bahwa sejauh ini belum ada media massa baik dalam bentuk koran harian dan tv yang secara sadar membela kepentingan umat Islam. Dan perlu diingat sekalipun setiap hari 200 mahasiswa UI berdemo menolak BHP, keputusan akan sulit untuk dirubah, apalagi dibatalkan.</p>
<p>Itu sudah berlangsung dan akan mengundang berbagai macam &#8220;kerusuhan&#8221; lain di masa yang akan datang. Sekarang mari kita buka mata hati kita, 2009 tinggal menunggu hari dan itu berarti Indonesia ini nanti akan ramai denagn berbagai macam berita, dari yang sangat serius sampai pada hal-hal yang tidak perlu diberitakan tapi tampil di media massa.</p>
<p>Ketahuilah bahwa lagi-lagi umat Islam tidak akan terwakili aspirasinya. Apa indikator dari semua itu? Setidaknya beberapa point berikut dapat dijadikan justifikasi akan pernyataan tersebut.</p>
<p>1. Jumlah partai Islam semakin bertambah</p>
<p>2. Ketidakpercayaan antar ormas &amp; orsos, orpol Islam juga kian melebar</p>
<p>3. Tidak adanya nota kesepahaman yang mereka bentuk dalam upaya mengakomodir aspirasi umat Islam.</p>
<p>Wahai pemuda muslim, masalah kita demikian kompleks &amp; ini secara langsung akan berpengaruh secara signifikan terhadap stabilitas kita sebagai muslim baik secara individu, kelompok bahkan secara makro umat Islam Indonesia.</p>
<p>Kiranya perlu kita duduk bersama, sejenak berpikir dan bersama-sama menganalisa apa sebenarnya sumber masalah yang hingga saat ini menjadikan umat Islam dalam posisi termarjinalkan? Selanjutnya mari kita evaluasi, gerakan perjuangan mahasiswa dan ormas Islam selama ini.</p>
<p>Apakah demo masih relevan? Atau ada cara yang lebih halus namun dapat diandalkan keberhasilannya? Lalu bagaimana jika kemudian cara kedua ternyata memakan waktu yang tidak sedikit, siapkah kita?</p>
<p>Mengubah bangsa ini tidak cukup dengan demo, menjadi anggota legislatif dll. Tetapi mengubah bangsa ini butuh ilmu, keyakinan dan semangat juang yang membara tanpa itu sepertinya kita hanya berada dalam bingkai angan-angan yang jauh dari kenyataan.</p>
<p>Kemanakah pemuda muslim berada? Apa yang sedang mereka siapkan untuk merubah bangsa ke depan? Ikut cari duit lewat pemilu 09? Atau justru tak mau tau dan asyk dengan kegiatan hura-huranya?</p>
<p>Siapkanlah diri kita sebaik-baiknya. Jika anda muslim belajarlah al-Qur&#8217;an, bahasa Arab, dll. Jika anda kuliah ekonomi, pelajari pula ilmu syariah agar anda tidak menjadi &#8220;cecenguk&#8221; kaum kapitalis. Jika anda belajar hukum, pelajari pula ilmu syariah dan fiqh agar anda tidak menghukum para kiai dan ulama.</p>
<p>Sahabat, masih panjang perjalanan kita, dan tanpa persiapan kita hanya akan mengulang kesengsaraan nenek moyang kita tatkala dijajah Belanda. Merdeka tapi menderita, Demokrasi tapi menyayat hati. Lihatlah kampus-kampus negeri sekarang, orang miskin sudah jarang, anak-anak tidak sekolah juga banyak, kelaparan di mana-mana dan kenakalan remaja di setiap ada manusia berkumpul di sana.</p>
<p>Apa yang kita pikirkan? Kemana kita akan berjalan? Akankah kita rela mati dalam penindasan dan kebodohan ini? Bangun dan bangkitlah, perjuangkan kebenaran dan tegakkan keadilan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=111&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/24/bhp-jangan-kaget/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SELAMAT ATAS RAKERNAS HIDAYATULLAH IV BATAM</title>
		<link>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/01/selamat-atas-rakernas-hidayatullah-iv-batam/</link>
		<comments>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/01/selamat-atas-rakernas-hidayatullah-iv-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 17:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Royo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamadun.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 2 Desember 2008 Hidayatullah akan menyelenggarakan Rakernas IV di kota Batam Kepulauan Riau. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 400 peserta itu akan dibuka oleh wakil presiden HM. Yusuf Kalla. Berlokasi di kampus Pesantren Hidayatullah Batam pembukaan rakernas akan dikawal ketat oleh aparat keamanan serta dihadiri oleh Walikota Batam.
Saya sendiri alhamdulillah juga berada di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=109&subd=tamadun&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Selasa, 2 Desember 2008 Hidayatullah akan menyelenggarakan Rakernas IV di kota Batam Kepulauan Riau. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 400 peserta itu akan dibuka oleh wakil presiden HM. Yusuf Kalla. Berlokasi di kampus Pesantren Hidayatullah Batam pembukaan rakernas akan dikawal ketat oleh aparat keamanan serta dihadiri oleh Walikota Batam.</p>
<p>Saya sendiri alhamdulillah juga berada di lokasi dan sempat berkunjung ke kampus Hidayatullah Tanjung Pinang dan Pulau Bintan. Luar biasa, para santri binaan allahuyarham Ustadz Abdullah Said ternyata masih komitmen dengan nilai-nilai spirit perjuangan Islam. Ditengah konstelasi orpol yang bersegera menyambut pemilu 2009 Hidayatullah tetap konsisten dengan amal sosial dakwah dan pendidikannya.</p>
<p>Saya juga sempat bertemu dengan Ustadz Bahar Mustofa pimpinan DPD Aceh Barat. Ustadz yang miriprleb dengan wajah Eropa ini akrab disapa dengan Bahar Belanda. Beliau adalah seorang kader yang sejak pertama bergabung dengan Hidayatullah hingga saat ini banyak mengemban amanah sebagai tenaga perintis pesantren Hidayatullah. Diantaranya adalah Papua, Tenggarong, Mamuju dan saat ini Aceh Barat.</p>
<p>Kami berharap sekalipun Hidayatullah tidak dipenuhi oleh para kader yang namanya berderet titel, namun kesucian hati dan ketulusan niat untuk turut serta membangun bangsa Indonesia adalah satu hal yang tak perlu diragukan dan dicurigai. Terlebih dengan tema &#8220;Pembanguk Kemajuan Sumber Daya Insani Berkualitas UnutkKemajuan Bangsa.</p>
<p>Hidayatullah harus menjaga konsistensi perjuangannya dan semoga melalui rakernas IV ini Hidayatullah dapat kembali secara bertahap  merealisasikan visi-misi yang merupakan  hal prinsip dalam perjuangan. Melalui aplikasi SNW (SISTEMATIKA NUZULNYA WAHYU) insyaallah konsistensi dan jama&#8217;ah kita akan selalu mengundang dan menjemput pertolongan Allah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tamadun.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tamadun.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tamadun.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tamadun.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tamadun.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tamadun.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tamadun.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tamadun.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tamadun.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tamadun.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tamadun.wordpress.com&blog=3428128&post=109&subd=tamadun&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamadun.wordpress.com/2008/12/01/selamat-atas-rakernas-hidayatullah-iv-batam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05b6f4a429fc04649e7ac79982a5a793?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Imam Royo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>