Asumsi Umum
Selama ini kita secara tidak langsung dan lebih banyak yang secara langsung sepakat jika remaja adalah masa bermain dan bersenang-senang. Bernyanyi, bergaya dengan berbagai macam model; mulai dari sepatu sampai model rambut adalah dunia remaja yang kini diamini oleh hampir setiap orang tua. Bahkan seiring dengan perkembangan zaman orang tua pun terseret pada hal yang serupa. Sehingga budaya konsumtif demi gaya hidup dan “permainan” tidak lagi identik dengan dunia remaja tetapi juga mereka yang dewasa.
Remaja sebagai kelas masyarakat yang kian meningkat kuantitasnya merupakan satu peluang besar bagi dunia bisnis. Bahkan karena budaya remaja juga mengalami transformasi pada dunia dewasa, dunia bisnis pun kian kokoh dengan berbagai macam produk dan jasanya. Pada akhirnya modern kini dipahami sebagai dunia mode dengan budaya konsumtif yang sangat besar. Pada saat yang agama nilai-nilai moral dan agama justru dipandang sebagai sesuatu yang selalu menghalangi kemajuan.
Gempuran Media
Pandangan bahwa dunia kini harus modis dan gaul memang tidak dapat dihindari begitu saja. Sebab media massa – diakui atau tidak – juga berperan sebagai faktor penting dalam mengukuhkan pandangan tersebut. Lihat saja, dari mana para remaja itu punya keinginan untuk suka berpacaran, jawabannya sederhana kalau bukan film ya sinetron. Dari mana remaja kian terpacu untuk berpacaran, jelas karena lagu-lagu pop yang banyak mengusung misi percintaan. Semua itu tampil dan nampang di media massa.
Berdasarkan uraian di atas, sumber masalahnya sederhana yakni keuntungan. Media dapat menarik banyak iklan, produsen film atau lagu dapat meraup hasil karyanya dan produsen produk dan jasa dapat terbantu promosinya dengan membiayai agenda-agenda media serta film-film atau lagu-lagu percintaan. Sehingga tidak mengherankan jika kondisi tersebut sulit untuk berubah. Justru dengan model seperti itu media kian kokoh sebagai panutan manusia. Indikasinya jelas, manusia yang tidak selayaknya ditiru justru banyak menjadi idola masyarakat. Ironisnya hal itu mereka lakukan tanpa mau peduli kondisi riil sang idola. Sejauh sesuai dengan selera pribadinya apapun akan dilakukan.
Ketidaksiapan Orang Tua
Era globalisasi sebenarnya sangat positif bagi peningkatan kualitas manusia, baik bagi kehidupan duniawi maupun mental spiritual. Seandainya hal ini dipahami dengan baik. Hanya saja kondisinya justru terbalik, karena para orang tua pada umumnya tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai moral dan peta masyarakat secara umum. Di samping itu kepentingan pragmatis lebih menjadi prioritas utama banyak orang tua. Akibatnya banyak anak-anak mereka hidup dengan kondisi kurang perhatian. Sehingga berbagai peristiwa miris yang menimpa banyak remaja sebenarnya satu akibat yang memang belum mampu diantisipasi oleh orang tua, masyarakat dan negara.
Ketika muncul wacana RUU APP misalnya, yang bergerak mendukung justru ormas Islam dan mahasiswa. Idealnya seluruh orang tua melakukan hal serupa. Namun faktanya tidak semua orang tua peduli. Masalahnya jelas, orang tua sibuk dengan urusan nafkah untuk keluarga. Konsentrasi penuh pada masalah ini menjadikan orang tua percaya sepenuhnya terhadap pendidikan formal. Orang tua banyak yang merasa tidak lagi perlu menjaga putra-putrinya lebih khusus lagi.
Minimnya Perhatian Pemerintah
Memang benar anak-anak itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Namun sangat tidak tepat jika kemudian di negeri ini rame dengan menu acara yang tidak “manusiawi”. Secara umum setiap orang pasti sepakat bahwa film-film barat itu tidak kita butuhkan, faktanya, penayangan film tersebut tak pernah sepi dari media kita. Setiap orang juga akan sepakat bahwa menampakkan paha dan bertelanjang dada bagi wanita adalah tidak baik, faktanya ini kian menjadi budaya bangsa kita.
Dengan satu kata kecantikan, sekian orang tersihir untuk melakukan hal serupa demi agar dia dapat menjadi sebagaimana bintang iklan dalam suatu produk. Memiliki rasa percaya diri dan tampil lebih “maju”. Kondisi kenakalan remaja dan meningkatnya penderita HIV tidak perlu terjadi sekiranya pemerintah siap dengan segala aturan dan antisipasinya. Masalahnya pemerintah masih belum menjadikan bukti ini sebagai masalah penting untuk segera diatasi. Akibatnya goyang ngebor, goyang ngecor dan terakhir goyang gergaji menjadi favorit kebanyakan masyarakat. Jika demikian kita bisa berharap apa dengan remaja kita?
Remaja, Bagaimana Sebenarnya?
Menolak dan meminta remaja meninggalkan musik, film dan pacaran secara terbuka tentu suatu tindakan yang kurang tepat. Sekalipun hal ini dapat kita lakukan. Demikian juga mengekang mereka di dalam rumah, membatasi pergaulan juga kurang bisa menjamin keamanannya. Lalu bagaimana?
Remaja adalah suatu masa di mana dia sedang berada pada titik kritis. Titik kritis maksudnya adalah titik di mana dia sedang mencari untuk menemukan konsep diri, figur dan teman yang tepat bagi dirinya. Tentu hal ini sejauh dan sebaik kualitas info atau ilmu yang telah dia terima. Jika sejak kecil dia akrab dengan kegiatan membaca, menulis maka dia akan cenderung ke arah tersebut. Sebaliknnya, jika hari-harinya biasa dengan menyanyi dan bermain maka masa remaja juga akan mencari suasana demikian. Dan karena banyaknya yang mengambil langkah seperti inilah kemudian muncul statemen remaja adalah masa bermain dlsb.
Remaja adalah masa indah lebih relevan untuk diterima. Namun jika keindahan dimaksud adalah budaya hedonis, pragmatis dan materialis tentu tidak tepat. Untuk mengerti apa yang seharusnya dilakukan oleh remaja kita tidak perlu repot-repot melihat ke Barat dan membaca artikel serta literature mereka. Mengapa? Tujuan hidup kita adalah menggapai kebahagiaan, dan jelas tiada kebahagiaan tanpa ridha Allah Swt. Bagaimana agar kelak Allah ridha kepada kita? Lihat profil sahabat Ali ra, Amar bin Yasir, Ibnu Abbas dan Aisyah ra. Mereka adalah tokoh pejuang yang masa remajanya dimaksimalkan untuk menjadi insan yang penuh dedikasi, prestasi dan tentu bermanfaat terutama dalam agenda perubahan.
Sehingga tidak mengherankan jika kemudian lahir generasi para imam yang sangat luar biasa. Imam Syafi’I misalnya, dia hafal al-Qur’an pada usia 7tahun dan hafal kitab al-Muwathtah’ pada usia 9 tahun. Apa jadinya setelah ia dewasa, Imam Sayfi’I berhasil membuat banyak kitab yang tetap eksis hingga saat ini.
Semua berawal dari masa anak-anak dan yang paling menentukan adalah masa remaja. Oleh karena itu kepada anda para remaja, jangan bangga punya pacar, bisa nyanyi dan punya banyak kenalan, sementara anda belum mengerti agama Islam ini. Anda belum memahami al-Qur’an. Tak ada yang dapat anda lakukan tanpa al-Qur’an. Sekalipun anda berprestasi maka prestasi anda belum tentu membebaskan dan menyelamatkan umat manusia bahkan diri anda sendiri.
Mari bersama-sama bergabung dalam gerakan membangun tamadun (peradaban Islam) dari yang paling kecil. Mulai dari bisa membaca al-Qur’an, memahaminya dan mengajarkan serta mengamalkannya. Remaja seharusnya sudah dapat memahami isi kandungan al-Qur’an. Inilah remaja muslim yang sebenarnya. Semoga.