Membendung Arus Liberalisme di Indonesia

16 November 2008 - Leave a Response

Alhamdulillah, karya yang kita nanti-nantikan akhirnya datang juga. Melalui Adian Husaini Allah Swt telah membuktikan bahwa doktrin liberalisme tak lebih dari sikap diabolisme intelektual Barat dan intelektual Indonesia yang imitator. Saya sangat menganjurkan kepada seluruh kawan-kawan aktivis baik itu, LDK, BEM, HMI-MPO, KAMMI, PMII, GMNI, dll, untuk sesegera mungkin membeli buku ini. Mohon doa juga, mudah-mudahan mulai sabtu depan saya sudah bisa mengikuti kajian sabtuan yang rutin diselenggarakan INSISTS di Kalibata Utara Jakarta Selatan. Beikut adalah kutipan dari www.adianhusaini.com

sr_98

”Rakyat rusak  gara-gara rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa terjadi akibat rusaknya ulama. Dan ulama rusak gara-gara cinta harta dan kedudukan. Siapa telah dikuasai kecintaan pada dunia, tidak akan sanggup ber-amar ma’ruf nahi munkar pada rakyat, apalagi kepada penguasa.” (Imam al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin).

INILAH INDONESIA!

Inilah Indonesia! Muslimnya 200 juta. Terbesar di dunia. Alhamdulillah, ada tanda-tanda kebangkitan. Tapi, saat yang sama, kemusyrikan dan kemunkaran pun merajalela. Majalah Playboy leluasa. RUU Anti-pornografi dicerca. Syariat Islam dilecehkan. Pergaulan bebas dibudayakan. Materialisme dan hedonisme ditanamkan.  Paham syirik modern (Pluralisme Agama) dikurikulumkan, diproyekkan. Aliran sesat dibela. Liberalisme dibanggakan. Relativisme dijadikan panduan di Perguruan Tinggi Agama. Ilmu Tafsir digusur; diganti tafsir Yahudi-Nasrani (hermeneutika). Perzinaan dibela. Homoseksual dihalalkan. Katanya demi kebebasan dan HAM. Perkawinan lintas agama dipromosikan. Pelopornya cendekia bergelar sarjana agama. Ada juga yang dipanggil ulama. Bahkan, banyak yang bergelar guru besar bidang agama. Artis dipuja, dijadikan idola. Ulama pejuang dianiaya. Ulama jahat (’ulama as-su’) ditampilkan.
Rasulullah saw sudah mengingatkan: “Termasuk diantara perkara yang  aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang al-Quran.” (HR Thabrani dan Ibn Hibban).
Inilah Indonesia! Negeri, dimana gelombang liberalisme semakin menggila. Apa dan bagaimana liberalisme, bagaimana paham ini bisa membelit umat Islam, dan bagaimana membendungnya?

Selama lima tahun (2003-2008), Adian Husaini telah mengupas masalah ini secara rutin dalam program Catatan Akhir Pekan Adian Husaini di Radio Dakta 107 FM dan dimuat secara berkala di www.hidayatullah.com. Goresan pena selama lima tahun itulah yang kini dihimpun dalam satu e-Book. Selamat Membaca!

MEMETIK MUTIARA HIKMAH

14 November 2008 - Leave a Response

Tak ada yang tak mungkin sepertinya bisa dibenarkan. Hal ini tentu saja tidak terkait dengan kemampuan manusia semata. Ungkapan itu hadir justru karena manusia memang sarat dengan keterbatasan. Sekalipun rasionalitas merupakan instrumen penting dalam kehidupan dunia ini, tapi tak semua yang sesuai dengan kriteria rasionalitas dapat mengarahkan manusia pada hakikat kebahagiaan.

Di negeri ini banyak sekali hal-hal yang mengagumkan, mendebarkan, mengharukan bahkan membanggakan. Lihat saja Andrea Hirata putra bangsa dari Bangka, sungguh luar biasa. Di saat banyak orang berebut kekuasaan dia justru berkarya dengan semangat belajar dan merangkai mimpinya.

Bersyukurlah wahai Andrea Hirata karena Allah telah memberikan satu bukti bahwa keterbelakangan daerah tak pernah menjadi penghalang untuk sukses sejauh menjadikan Allah sebagai walinya. Demikian pula halnya dengan Allahuyarham Ustadz Abdullah Said. Aktivis yang tak pernah mengenyam pendidikan pesantren secara formal ini justru beride mendirikan pesantren, yang hingga kini telah banyak membantu generasi muda Islam mengenal dan mencintai Islam lebih baik.

Begitu juga dengan saya, antum dan semuanya. Apapun bisa kita lakukan, sejauh memang niat kita benar dan selalu menjadikan Allah sebagai pelindung. Kesusahan bukanlah jarak yang harus dijauhi, tapi buatlah media; entah itu jembatan, tali dll.

Dan seandainya kita menyadari, apa yang terjadi pada Andrea Hirata bukanlah hal yang luar biasa. Kenapa, dalam al-Qur’an banyak sekali kisah yang sangat menarik. Lihat saja Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman, dan Nabi Muhammad Saw. Nabi Yusuf harus dibuang oleh saudaranya sebelum menjadi perdana menteri. Rasulullah harus yatim dan menderita pada saat eksistensi dirnya merindukan kasih sayang orang tua. Demikianlah Allah mengatur segalanya.

Oleh karena itu, mari kita rangkai mimpi-mimpi, kita rajut amal sholeh dan kita bangun ukhuwah. Insyaallah krisis negeri ini akan segera sirna. Pandai-pandailah menjadi manusia (ulil Albab) yang senantiasa mampu memetik mutiara hikmah di tengah terpaan duka nestapa diri, keluarga dan bangsa. Allahu Akbar.

APA YANG PRIORITAS

24 Oktober 2008 - Leave a Response

Selama ini telinga kita begitu akrab dengan kata pendidikan dan teknologi. Sampai-sampai UU pun mengamanahkan 20% dari dana APBN harus dikerahkan untuk kemajuan pendidikan. Meskipun realisasi dari amanah UU tersebut baru saja dijalankan pada akhir tahun ke 4 kepemimpinan SBY-JK.

Pendidikan sebagai prioritas memang sangat tepat, namun pendidikan yang tidak bersumber pada nilai-nilai kebenaran hakiki hanyalah semu. Mari kita perhatikan, apa yang dihasilkan oleh pendidikan kita saat ini?
Di atas kertas mutu pendidikan seolah telah meningkat, ini dapat dilihat dari nilai standar minimal UAN yang ditetapkan diknas kian terpenuhi. Selanjutnya, tumbuh dan berkembangnya sekolah-sekolah negeri menjadi sekolah yang menyandang gelar bertaraf nasional maupun internasional.

Lalu bagaimana dengan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat kita?
Jangan ditanya, korupsi, zina, free sex, pembunuhan, perselingkuhan adalah deadline hampir banyak media. Bahkan tontonan masyarakat yang kebanyakan kalangan pelajar sangat jauh dari unsur-unsur pendidikan bahkan sebaliknya.

Itu masalah bersama & kita tidak pernah diperkenankan untuk pesimis. Namun menghadirkan optimisme di tengah situasi para tokoh nasional yang saat ini lebih suka mempromosikan diri untuk pencalonan partai dan dirinya, rasanya ibarat melukis di atas air. Sistem demokrasi yang mensyaratkan banyak dana secara akal sehat sangat sulit untuk melahirkan pemimpin yang bertanggungjawab kalau tidak dikatakan mustahil.

Masyarakat berkata kita perlu perbaiki pendidikan kita, birokrat berkata kita rubah bangsa ini melalui pemilu dlsb. Namun, pernahkah kita berpikir, apa yang sebenarnya dibutuhkan bangsa ini?
Ahli retorika sudah cukup banyak, profesor membludak, pengamat berserakan, pejabat juga luar biasa jumlahnya.

Dalam perspektif nurani, Indonesia membutuhkan jiwa-jiwa yang suci, berani dan senantiasa menggantungkan hidupnya kepada Allah swt. Karena secara konsep, orang-orang yang demikianlah yang akan terus berupaya memperbaiki dir demi amanah yang diembannya sebagai abdullah dan khalifatullah.

Berani melawan pornografi, berani membasmi korupsi, dan berani mengundurkan diri jika bersalah dan tidak mampu, serta berani mendengar nasihat-nasihat kebenaran. Tidak arogan, merasa paling benar dan pasti benar. Dan mewujudkan hal ini tidaklah mudah, perlu kesabaran dan kesungguhan. Sehingga kelak tidak ada orang pintar mengabdi pada orang bodoh yang banyak uang. Atau menjual agama pada orang serakah. Serta tidak perlu umat Islam belajar Islam ke Jepang apalagi Kanada & Amerika.

Jika hal ini dapat terwujud, maka pendidikan kita adalah pendidikan yang mencerdaskan manusia seutuhnya, demokrasi kita adalah demokrasi yang lebih baik dan korupsi adalah amalan jahat yang pantas diberantas. Masyarakat kita akan lebih bisa menghargai dirinya sendiri, remaja kita adalah mereka yang haus ilmu dan rajin beribadah. Inilah yang dibutuhkan bangsa ini. Anda berminat mewujudkannya? Mari bergabung bersama.

Kisah LDK STAIL

18 Oktober 2008 - 3 Responses

Patah satu tumbuh seribu, sepertinya tak sekedar pepatah bagi generasi pelanjut para mujahid muslim Hidayatullah. Di tengah segala keterbatasan dan kelemahan Insyaallah pada Sabtu, 25 Oktober 2008 akan digelar acara wisuda sarjana dan penugasan kader Hidayatullah ke seluruh Indonesia. Bertempat di lokasi Pesantren Hidayatullah Surabaya, acara tersebut akan dihadiri oleh DPP Hidayatullah, Pimpinan Umum Hidayatullah; Ustadz Abdurrahman Muhammad.

Para wisudawan kader tersebut tiada lain adalah para santri yang telah menamatkan program kuliah selama 4 tahun di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim Surabaya. Amanah yang akan mereka pikul cukup berat, karena membawa misi Islam dan melanjutkan perjuangan Rasulullah Saw. Diskusi yang seringkali mewarnai forum seminar, dialog, dan sarasehan di kampus adalah seputar persatuan kader muda muslim Indonesia.

Notabene, para maha santri sangat mengkhawatirkan dan mencemaskan kondisi kader muda mujahid muslim Indonesia, yang terkotak-kotak dalam bingkai organisasi. Semua merasa paling benar, dan sangat sulit untuk bisa mengajak mereka duduk dalam satu atap.

Merespon kondisi tersebut, maka angkatan tahun 2004 membuat LDK (lembaga dakwah kampus) STAIL. LDK ini berafiliasi pada dua LDK utama, yakni FS-LDK & BK-LDK. Waktu mengikuti acara simposium nasional di IPB (Bogor), teman-teman STAIL turut serta, bahkan ketika FS-LDKN di Lampung pun temen-temen LDK dari STAIL juga turut serta. Pernah kami ditanya, STAIL kok ikut dua-duanya. Kami jawab “dua-duanya bagus dan tidak ada perbedaan, melainkan tekhnis dan pendapat yang tidak bersifat ushul”.

LDK STAIL juga pernah berupaya untuk meminimalisir kondisi split LDK tersebut. Namun sebagai kampus kecil tak besar yang dapat kami lakukan. Dalam forum FS-LDKD II di UBAYA pun akhirnya disepakati untuk mendirikan forum kajian mahasiswa yang kala itu kami sebut PUSAT KAJIAN ISLAM MAHASISWA (PKIM). Sempat beberapa bulan eksis, bahkan pernah Allah izinkan kami menggelar acara workshop pemikiran yang dihadiri punggawa INSISTS dari Malaysia.

Gagal dengan PKIM kamipun mengundang UHT (Universitas Hang Tuah) dan ITS untuk duduk bersama dalam satu forum. Kajian itupun berjalan lancar, pertama kali di gelar di STAIL berlanjut di UHT dan terakhir kembali gagal ketika akan diselenggarakan di ITS. Hal ini terjadi karena JMMI ITS akan mengadakan acara akbar, sehingga program kami bertiga pun ditunda dahulu.

Awalnya kami sangat optimis, dengan tiga kali kajian bersama ini esoknya kami akan mengajak teman-teman ITATS untuk bergabung. Namun apa daya, kami memang sangat lemah dan belum cukup niat. Di ITATS sendiri juga terdapat dua LDK yang berdiri sendiri. Kami berharap dan selalu berdoa semoga LDK-LDK itu dapat bersatu kembali dan tidak terjebak pada kepentingan sesaat yang merugikan umat Islam.

Kader Dakwah Hidayatullah, antum menghadapi masalah yang serius, mulai dari niat antum, komitmen antum dan keikhlasan antum. Di samping itu perpecahan umat yang bangga dengan barisannya masing-masing juga akan antum hadapi. Oleh karena itu semangat ukhuwah, mengutamakan maslahah ummat harus menjadi prioritas hidup antum.

Melalui media ini, kami mohon kepada siapapun elemen umat Islam, agar mendukung, membimbing dan membina mahasantri yang masih sangat awam itu. Semoga wisudawan 2008 ini benar-benar dapat mewujudkan persatuan umat Islam yang itu menjadi dambaan dan cita-cita semua. Meskipun belum berhasil di tingkat LDK antar Kampus niat ini tidak boleh lenyap dalam dada. Yakin Usaha Sampai, demikian nasehat teman-teman HMI-MPO kepada kami.

Selamat jalan kader dakwah, dimanapun antum berpijak di sana Islam dijunjung. Teman-teman LDK se-Indonesia, doakan kami kader dakwah dari STAIL Surabaya sukses menggapai ridha Allah. Semoga LDK bisa kembali bersatu padu menjunjung bendera Islam yang sesungguhnya. Bukan organisasi, partai, dan bendera-bendera lainnya. Semoga.

Arti Sebuah Kemenangan

6 Oktober 2008 - Leave a Response

Lima hari yang lalu, tepatnya 1 Oktober 2008 umat Islam seluruh dunia merayakan hari kemenangan; Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Hari fitri, dimana ukhuwah kian terasa dengan semangat silaturrahmi yang membumbung tinggi. Inilah hari dimana gerbang kehidupan sejati menyambut iman dan kesungguhan kita semua.

Idealnya, paska hari kemenangan tersebut umat Islam dapat meraih keberhasilan demi keberhasilan yang mengantarkannya pada kemenangan sejati. Sebab sejak fajar terbit pada 1 Syawal sepanjang masa, berbagai kendala telah berhasil kita atasi bersama. Segala salah dan dosa telah kita upayakan untuk mendapatkan ampunan dari-Nya. Kitapun tiada enggan untuk meminta dan memberi maaf terhadap saudara-saudara kita semua. Satu syarat untuk bisa bersatu dan rapat dalam barisan telah kita miliki.

Kemenangan Slogan

Namun semua (kemenangan) itu tak lebih dari fatamorgana. Pasalnya hari raya Idul Fitri (seolah) telah menjadi arena formalitas, dimana bertemunya jasad tidak disertai dengan pertemuan jiwa yang lebih sejati. Paska Syawalan, pada umumnya elemen umat Islam merasa tidak begitu perlu untuk memelihara suasana lebaran tersebut. Setelah itu semua kembali, kembali ke rumah sendiri, tempat kerja, dan pasti sibuk dengan dirinya sendiri. Bahkan tidak jarang jika terdapat benturan kepentingan, konfrontasi lebih mereka jadikan alternatif ketimbang bersama berupaya untuk menyelesaikannya. Kecurigaan demi kecurigaan selalu tampil ke permukaan. Sehingga hujatan dan berbagai macam tuduhan tanpa disadari kembali membudaya dalam hari-hari kita.

Apa buktinya? Di sini akan saya ambil contoh yang paling mudah untuk kita lihat. Partai Islam misalnya, selama ini setiap dari mereka menyerukan suatu kebaikan, kesucian dan kebersamaan. Faktanya mereka sama sekali tak mampu duduk bersama mengatasi problem bangsa ini. Sebaliknya, “fastabiqul khairat” mereka bergeser pada perebutan suara, yang tidak jarang sering menimbulkan konflik horizontal yang tidak sepele.

Adanya bermacam-macam partai itu sendiri sebenarnya wujud umat Islam yang masih belum mampu mengalahkan rasa sombong dalam dirinya. Semua masih merasa dirinya lebih berhak (baca yang terbaik).

Lebih detailnya, rasa lebih berhak itu juga tumbuh berkembang di kalangan para generasi mudanya. Bahkan di antara mereka sudah mulai memiliki persepsi yang tidak beralasan, jika menikah dengan umat Islam yang tidak tergabung dalam organisasinya hanya akan banyak mendatangkan “mudharat”. Alasan ini mengemuka seiring dengan banyaknya kader mereka yang kemudian absen dalam program mereka. Standar loyalitas kepada Islam kini diukur dengan tetapnya seseorang bergabung dengan kelompoknya. Sekalipun kader tersebut tetap aktif dalam kegiatan ke-Islaman selama tidak dengan kelompokya mereka anggap sebagai suatu hal yang keliru. Hal ini memicu mereka (generasi muda) semakin terjebak pada fanatisme yang salah dan inilah yang sebenarnya disebut dengan kejumudan.

Seharusnya, umat Islam bersatu, minimal duduk bersama untuk maslahah. Sungguh suasana kebersamaan itu dapat terwujud dan kemenangan itu dapat kita raih sekiranya kita memang benar-benar berupaya untuk itu. Dan perlu dicatat kejayaan Islam ini tidak mungkin diraih oleh satu organisasi saja. Tapi semua, semua organisasi massa Islam. Tanpa itu, kemenangan yang selama ini kita gembar-gemborkan tak lebih dari sekedar slogan dan lebih tepat disebut sebagai fatamorgana.

Amanah Kemenangan

Sejatinya, tanpa kita pun, Islam tetap akan terpelihara dan akan terus maju hingga pada saat yang telah ditentukan-Nya. Sungguh, kita tak berarti apa-apa di hadapan Allah swt. Kecerdasan yang kita miliki, dan kuatnya jaringan organisasi yang kita miliki tak lebih dari setitik kekuatan yang setiap saat dapat hancur lebur tak berjejak. Karena memang hanya Allah semata yang mampu menyatukan hati umat Islam. Oleh karena itu mulai saat ini, gundukan kesombongan itu mesti kita kurangi.

Bagi antum yang siap menikah, menikahlah dengan yang dapat mencintai dan dicitai meskipun dia tidak se-organisasi dengan kita. Murobbi adalah tempat kita berkonsultasi, bukan menentukan kebenaran dan kebaikan bagi kita. Jika perkataan murobbi kita jadikan suatu hal yang mutlak sifatnya maka sungguh ini adalah suatu kemunduran. Allah tak pernah melihat stauts kemuliaan seorang hamba karena afiliasinya dengan organisasi atau jama’ah tertentu, tapi ketaqwaan. Camkan itu baik-baik.

Bagi antum yang di partai, jangan busungkan dada, sama sekali anda tak punya kekuatan. Jika umat Islam yang lain melupakan anda maka cita-cita dan program antum tak lebih dari sekedar goresan angan-angan belaka. Dan bagi kita yang biasa-biasa saja, mari kita satukan langkah untuk menjadikan ukhuwah sebagai prioritas di atas segala kepentingan.

Di sini saya teringat akan suatu masalah besar yang melanda negeri ini. Dan hal ini telah Rasulullah informsikan kepada kita sejak 14 abad silam.

“Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara. Kalau aku (Rasulullah saw) aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpakamu atau kamu mengalaminya.

  1. Jika perbuatan mesum (Zina) dalam suatu kaum, sudah dilakukan terang-terangan, maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu.
  2. Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat, maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali.
  3. Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa.
  4. Jika penguasa-penguasa melaksanakan hukum yang bukan dari Allah, maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka.
  5. Jika mereka menyia-nyiakan (Kitabullah dan Sunnah Nabi) maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Lima masalah di atas telah nampak dan terang sekali dalam kehidupan bangsa dan negeri ini. Siapa yang akan menjawabnya, siapa yang dapat mengatasinya, anda sendiriankah? Tidak, masalah ini adalah masalah bersama. Melalui moment Idul Fitri 1429 H ini mari kita satukan barisan untuk kembali menata negeri ini. Bersatulah umat Islam, jauhkan egomu dan kuburlah kesombonganmu. Semoga Allah ridha kepada kita semua sehingga kita dapat meraih kemenangan.

Remaja Sebenarnya

24 September 2008 - 2 Responses

Asumsi Umum

Selama ini kita secara tidak langsung dan lebih banyak yang secara langsung sepakat jika remaja adalah masa bermain dan bersenang-senang. Bernyanyi, bergaya dengan berbagai macam model; mulai dari sepatu sampai model rambut adalah dunia remaja yang kini diamini oleh hampir setiap orang tua. Bahkan seiring dengan perkembangan zaman orang tua pun terseret pada hal yang serupa. Sehingga budaya konsumtif demi gaya hidup dan “permainan” tidak lagi identik dengan dunia remaja tetapi juga mereka yang dewasa.

Remaja sebagai kelas masyarakat yang kian meningkat kuantitasnya merupakan satu peluang besar bagi dunia bisnis. Bahkan karena budaya remaja juga mengalami transformasi pada dunia dewasa, dunia bisnis pun kian kokoh dengan berbagai macam produk dan jasanya. Pada akhirnya modern kini dipahami sebagai dunia mode dengan budaya konsumtif yang sangat besar. Pada saat yang agama nilai-nilai moral dan agama justru dipandang sebagai sesuatu yang selalu menghalangi kemajuan.

Gempuran Media

Pandangan bahwa dunia kini harus modis dan gaul memang tidak dapat dihindari begitu saja. Sebab media massa – diakui atau tidak – juga berperan sebagai faktor penting dalam mengukuhkan pandangan tersebut. Lihat saja, dari mana para remaja itu punya keinginan untuk suka berpacaran, jawabannya sederhana kalau bukan film ya sinetron. Dari mana remaja kian terpacu untuk berpacaran, jelas karena lagu-lagu pop yang banyak mengusung misi percintaan. Semua itu tampil dan nampang di media massa.

Berdasarkan uraian di atas, sumber masalahnya sederhana yakni keuntungan. Media dapat menarik banyak iklan, produsen film atau lagu dapat meraup hasil karyanya dan produsen produk dan jasa dapat terbantu promosinya dengan membiayai agenda-agenda media serta film-film atau lagu-lagu percintaan. Sehingga tidak mengherankan jika kondisi tersebut sulit untuk berubah. Justru dengan model seperti itu media kian kokoh sebagai panutan manusia. Indikasinya jelas, manusia yang tidak selayaknya ditiru justru banyak menjadi idola masyarakat. Ironisnya hal itu mereka lakukan tanpa mau peduli kondisi riil sang idola. Sejauh sesuai dengan selera pribadinya apapun akan dilakukan.

Ketidaksiapan Orang Tua

Era globalisasi sebenarnya sangat positif bagi peningkatan kualitas manusia, baik bagi kehidupan duniawi maupun mental spiritual. Seandainya hal ini dipahami dengan baik. Hanya saja kondisinya justru terbalik, karena para orang tua pada umumnya tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai moral dan peta masyarakat secara umum. Di samping itu kepentingan pragmatis lebih menjadi prioritas utama banyak orang tua. Akibatnya banyak anak-anak mereka hidup dengan kondisi kurang perhatian. Sehingga berbagai peristiwa miris yang menimpa banyak remaja sebenarnya satu akibat yang memang belum mampu diantisipasi oleh orang tua, masyarakat dan negara.

Ketika muncul wacana RUU APP misalnya, yang bergerak mendukung justru ormas Islam dan mahasiswa. Idealnya seluruh orang tua melakukan hal serupa. Namun faktanya tidak semua orang tua peduli. Masalahnya jelas, orang tua sibuk dengan urusan nafkah untuk keluarga. Konsentrasi penuh pada masalah ini menjadikan orang tua percaya sepenuhnya terhadap pendidikan formal. Orang tua banyak yang merasa tidak lagi perlu menjaga putra-putrinya lebih khusus lagi.

Minimnya Perhatian Pemerintah

Memang benar anak-anak itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Namun sangat tidak tepat jika kemudian di negeri ini rame dengan menu acara yang tidak “manusiawi”. Secara umum setiap orang pasti sepakat bahwa film-film barat itu tidak kita butuhkan, faktanya, penayangan film tersebut tak pernah sepi dari media kita. Setiap orang juga akan sepakat bahwa menampakkan paha dan bertelanjang dada bagi wanita adalah tidak baik, faktanya ini kian menjadi budaya bangsa kita.

Dengan satu kata kecantikan, sekian orang tersihir untuk melakukan hal serupa demi agar dia dapat menjadi sebagaimana bintang iklan dalam suatu produk. Memiliki rasa percaya diri dan tampil lebih “maju”. Kondisi kenakalan remaja dan meningkatnya penderita HIV tidak perlu terjadi sekiranya pemerintah siap dengan segala aturan dan antisipasinya. Masalahnya pemerintah masih belum menjadikan bukti ini sebagai masalah penting untuk segera diatasi. Akibatnya goyang ngebor, goyang ngecor dan terakhir goyang gergaji menjadi favorit kebanyakan masyarakat. Jika demikian kita bisa berharap apa dengan remaja kita?

Remaja, Bagaimana Sebenarnya?

Menolak dan meminta remaja meninggalkan musik, film dan pacaran secara terbuka tentu suatu tindakan yang kurang tepat. Sekalipun hal ini dapat kita lakukan. Demikian juga mengekang mereka di dalam rumah, membatasi pergaulan juga kurang bisa menjamin keamanannya. Lalu bagaimana?

Remaja adalah suatu masa di mana dia sedang berada pada titik kritis. Titik kritis maksudnya adalah titik di mana dia sedang mencari untuk menemukan konsep diri, figur dan teman yang tepat bagi dirinya. Tentu hal ini sejauh dan sebaik kualitas info atau ilmu yang telah dia terima. Jika sejak kecil dia akrab dengan kegiatan membaca, menulis maka dia akan cenderung ke arah tersebut. Sebaliknnya, jika hari-harinya biasa dengan menyanyi dan bermain maka masa remaja juga akan mencari suasana demikian. Dan karena banyaknya yang mengambil langkah seperti inilah kemudian muncul statemen remaja adalah masa bermain dlsb.

Remaja adalah masa indah lebih relevan untuk diterima. Namun jika keindahan dimaksud adalah budaya hedonis, pragmatis dan materialis tentu tidak tepat. Untuk mengerti apa yang seharusnya dilakukan oleh remaja kita tidak perlu repot-repot melihat ke Barat dan membaca artikel serta literature mereka. Mengapa? Tujuan hidup kita adalah menggapai kebahagiaan, dan jelas tiada kebahagiaan tanpa ridha Allah Swt. Bagaimana agar kelak Allah ridha kepada kita? Lihat profil sahabat Ali ra, Amar bin Yasir, Ibnu Abbas dan Aisyah ra. Mereka adalah tokoh pejuang yang masa remajanya dimaksimalkan untuk menjadi insan yang penuh dedikasi, prestasi dan tentu bermanfaat terutama dalam agenda perubahan.

Sehingga tidak mengherankan jika kemudian lahir generasi para imam yang sangat luar biasa. Imam Syafi’I misalnya, dia hafal al-Qur’an pada usia 7tahun dan hafal kitab al-Muwathtah’ pada usia 9 tahun. Apa jadinya setelah ia dewasa, Imam Sayfi’I berhasil membuat banyak kitab yang tetap eksis hingga saat ini.

Semua berawal dari masa anak-anak dan yang paling menentukan adalah masa remaja. Oleh karena itu kepada anda para remaja, jangan bangga punya pacar, bisa nyanyi dan punya banyak kenalan, sementara anda belum mengerti agama Islam ini. Anda belum memahami al-Qur’an. Tak ada yang dapat anda lakukan tanpa al-Qur’an. Sekalipun anda berprestasi maka prestasi anda belum tentu membebaskan dan menyelamatkan umat manusia bahkan diri anda sendiri.

Mari bersama-sama bergabung dalam gerakan membangun tamadun (peradaban Islam) dari yang paling kecil. Mulai dari bisa membaca al-Qur’an, memahaminya dan mengajarkan serta mengamalkannya. Remaja seharusnya sudah dapat memahami isi kandungan al-Qur’an. Inilah remaja muslim yang sebenarnya. Semoga.

Pornografi dan Egoisme Intelektual

23 September 2008 - Leave a Response

Mencuatnya berita akan segera disahkannya RUU Anti Pornografi mengundang reaksi dari berbagai kalangan, tidak terkecuali kalangan intelektual. RUU yang sejatinya akan membebaskan masyarakat dari kubangan syahwat itu justru “ditolak”, padahal tak satupun manusia membenarkan tindak pornografi itu sendiri apapun alasannya, kecuali mereka yang memang benar-benar merendahkan akal sehat dan keimanannya.

Saya yakin, bahwa masyarakat pada umumnya akan mendukung segera disahkanya RUU AP tersebut. Suara yang menolak RUU AP tersebut sama sekali tidak mewakili entitas public di negeri ini. Di sinilah kemudian ada satu paradoks. Umumnya pihak kontra menjadikan debat public sebagai media legitimasi layak tidaknya RUU tersebut disahkan. Namun jika kita teliti tak banyak masyarakat yang mengerti masalah ini. Artinya penolakan RUU AP tersebut bisa jadi hanya dari segelintir orang yang pasti tidak mewakili public itu sendiri.

Hanya saja ada ketidakseimbangan antara pihak pro dan kontra. Secara umum pihak kontra sejalan dengan media, artinya media akan lebih banyak mengusung aspirasi yang menolak RUU tersebut daripada yang pro. Dalam situasi demikian biasanya argumen yang mengemuka adalah perlunya perlindungan terhadap hak minoritas, sedangkan pada hal-hal yang jelas-jelas merugikan hak rakyat atas kesejahteraan tak banyak suara menentang. LNG misalnya, kasus ini sepi dari sorotan publik.

Pemaksaan Kehendak

Diakui atau tidak sejatinya mereka yang menolak RUU AP dan disuarakan melalui media juga bagian dari orang-orang yang suka memaksakan kehendak. Mengapa, hanya karena tidak sesuai dengan sudut pandangnya apa yang telah diupayakan sesuai prosedurpun dinilainya tak “beres“. Di sisi lain mereka sangat ingin aspirasi mereka didengar dan kalau bisa merubah rencana bahkan keputusan yang akan atau bahkan telah ditetapkan.

Lucunya, pendapat orang kuno pun dikemukakan untuk melegalkan aspirasinya. Franz Magnis Suseno misalkan, dia mengutip pernyataan Immanuel Kant “Setiap kebijakan politik yang takut mata public adalah kotor” (kompas, 17/9). Jelas mengadopsi pendapat tersebut adalah satu langkah tidak cerdas. Pertama siapa Immanuel Kant, bagaimana konteks historisnya, apa yang melatarbelakangi pernyataannya? Padahal pasti apa yang dialami Immanuel Kant dengan kita saat ini berbeda.

Ironisnya, Guru Besar STF Driyarkara itu membawa-bawa Ramadhan sebagai selimut akan disahkannya RUU tersebut. Bahkan dia “tuduh“ seperti maling. “Bak maling memanfaatkan terang remang-remang. Apa mereka tidak tahu malu?“ Ungkapan ini jelas tak layak disampaikan oleh seorang Rohaniawan. Sekalipun berbeda pendapat jangan kemudian memvonis pihak pro seperti maling.

Merasa tak mungkin memberi pengaruh signifikan dalam pemutusan RUU tersebut dua anggota Pansus dari F-PDIP dan F-PDS memutuskan untuk mengundurkan diri dari panja. Sekalipun dia mundur sejatinya dia menginginkan idenya yang di dengar dan dengan perbedaan yang ada dia tidak mampu untuk bertoleransi dan bertenggang rasa. Dalam rangka tersebut, dikemukakanlah alasan-alasan yang sebenarnya dikarenakan ketidaktahanan mental dia dan keengganan dia untuk bekerjasama dalam memutuskan hal tersebut.

Perang Kepentingan

Saatnya generasi muda Islam mengerti pemain di balik media. Bebas nilai yang dipropagandakan Barat dalam hal ilmu sebenarnya tidak lain adalah bebas dari pengaruh Islam. Jika demikian maka bebas nilai itu sendiri adalah nisbi, karena tidak mungkin orang berbuat tanpa sebuah keyakinan dan tentunya kalkulasi keuntungan.

Demikian pula halnya dengan media, baik elektronik maupun cetak. Media dipenuhi oleh orang-orang yang punya latar belakang dan kecenderungan yang berbeda-beda. Oleh karena itu kita mesti tahu mana media yang menyuarakan nilai-nilai ke-Islam-an dan mana media yang mencoba untuk memadamkan cahaya Islam.

Mengharap turunnya tulisan yang mendukung RUU AP dari Kompas tentu salah besar. Mengapa? Silahkan anda teliti sendiri.

Sebagai generasi muslim maka tidak ada jalan lain melainkan kita bersatu padu untuk mengusung tegaknya kalimat Allah. Kita patut berkaca pada Eropa yang rela bersatu untuk kepentingan benuanya. Mari masyarakat muslim Indonesia kita bersatu tegakkan keadilan dan hancurkan kemunkaran (pornografi).

Kebenaran Sumber Keadilan

16 September 2008 - Leave a Response

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Swt Tuhan Semesta Alam. Dalam tempo satu hari Allah Swt memperkenankan saya bertemu dengan dua tokoh sekaligus, yakni Dr. Hamid Fahmi Zarkasy (direktur INSISTS) dan Dr. Yudi Latif (Pemimpin Pesantren Kemanusiaan dan Ilmu Kenegaraan – Pe-KIK-). Hanya saja keduanya tidak duduk dalam satu forum. Sehingga tidak tercipta suasana yang hangat karena memang keduanya bertemu dalam rangkaian acara yang berbeda pula. Akan tetapi dari perbincangan saya dengan kedua tokoh tersebut sungguh memberikan satu penyegaran atas melemahnya hal-hal urgen dalam kehidupan umat Islam Indonesia selama lebih dari 3 dekade belakangan.

Etos kerja, semangat juang dan semangat mengkaji ilmu itulah yang hilang dari diri umat Islam sejak berakhirnya masa Kolonial. Akibatnya generasi 50-an hingga saat ini tidak ada yang dapat tampil setara dengan Cokro Aminoto, Kahar Muzakkar, Agus Salim, Natsir dan Soekarno sekalipun. Di sini ada permasalahan, namun tak banyak yang antusias untuk menguaknya.

Demikian Yudi Latif memberikan paparan tentang krisis kepemimpinan dan meluasnya prostitusi melampaui makna yang sesungguhnya.

Standar prestasi kini telah lenyap dari peredaran hatta di lingkungan kampus dan di kalangan akademisi sekalipun. Dahulu mungkin mereka yang bisa belajar di kampus negeri adalah anak-anak yang memang berprestasi. Tetapi kini selagi ada uang belajar di manapun tak jadi soal. Itulah mengapa saat ini standar kualitas antara perguruan tinggi dan swasta tidak lagi dominant. Semua sama, ya sama-sama karena uang.

Dalam hal kepemimpinan Yudi Latif menegaskan bahwa betapa pemimpin kita saat ini adalah pemimpin yang tidak mengerti akan tugas dan tanggung jawabnya. Masalah ini juga dapat di baca pada kolom opini harian Kompas Selasa, 16/9/2008, yang dia padatkan dalam dua kata “Politik Narsistik”.

Yudi Latif mengharapkan perlu adanya penyadaran yang diikuti dengan aksi nyata membangun kembali negeri yang nyaris hancur ini. Bagaimanapun optimisme harus dibangun. Karena tanpa optimisme hidup tidak lagi memiliki arti apa-apa. Dia mencontohkan; “Lihat bagaimana umat Islam pada masa dulu, mereka punya semangat dagang yang kuat. Di mana terdapat komunitas Arab di sana pasti ada masjid dan tidak jauh dari lokasi masjid di sana juga ada pasar. Bandingkan dengan mental kebanyakan saat ini, semua ingin menjadi pegawai, entah PNS atau apa yang penting pegawai. Yang mana pegawai dalam pandangan masyarakat muslim pada abad pertengahan adalah bentuk cita-cita yang paling rendah”.

Semua itu terjadi karena pemerintah memang belum mampu menjadi pelayan public yang sebenarnya. Keterikatan yang begitu kuat terhadap materi menjadikan korupsi membudaya, kemaksiatan merajalela, dan kemiskinan mewabah di mana-mana. Inilah bentuk ketidak adilan, dan pasti apapun tidak akan bisa bertahan lama sejauh keadilan tidak menjadi ruh kehidupan.

Namun bagaimana keadilan dapat ditegakkan? Cukup dengan mengerti fakta sejarah, problem kenegaraan? Atau memiliki relasi luar negeri yang kuat?

Tentu tidak cukup! Kita memerlukan ilmu, iman dan amal sekaligus, yang semua itu telah terformulasi dengan kokoh dalam al-dienul al-Islam ini. Di sinilah perlunya kita mengkaji ilmu. Terkait dengan keadilan kita tidak bisa lepas dari konsep kebenaran itu sendiri, dan tidak ada kebenaran melainkan dalam Islam. Itulah mengapa dalam hampir setiap tulisan dan lisannya, Ustadz Fahmi Zarkasy selalu menitikberatkan bahasannya pada worldview Islam (pandangan hidup Islam)

Demikian pula halnya dalam pertemuan kemarin. Seperti biasa Ustadz Fahmi mengawali perbincangan seputar worldview, struktur ilmu dan konsep keilmuan. Sebagai muslim sudah selayaknya kita memahami worldview Islam. Sebab tanpanya (worldview Islam) umat manusia tidak akan pernah sampai pada titik kedamaian dan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Keadilan hanya bisa tegak manakala Islam merealita dan umat Islam menjiwai Islam itu sendiri. Mengharap keadilan dari akumulasi social-historis hanya akan mengundang banyak PR lagi, dan tentu pada saatnya akan selalu mendapat gugatan-gugatan dan perlawanan-perlawanan. Ini tentu karena substansi akal manusia terbatas. Berbeda dengan Islam, Islam telah syamil dan kamil sejak diwahyukan.

Itulah sebabnya ide-ide dari Jaringan Islam Liberal adalah ide-ide yang perlu diluruskan, selain menyimpang ide ini juga membawa kita pada risiko hidup yang tidak ringan. Ini tentu karena JIL mengadopsi ide-idenya dari Orientalis. Sehingga sangat pas jika kemudian Al-Attas menegaskan bahwa “Islam, bukan sekedar “agama berserah diri”, tetapi juga penjelasan tentang bagaimana cara berserah diri yang benar (true submission). Islam juga menjelaskan, siapa Tuhan yang sebenarnya. Semua itu hanya mungkin dipahami melalui penerimaan terhadap konsep kenabian Muhammad saw.

Ini sama arti, dengan kita tidak pernah akan sampai pada keadilan tanpa mengerti apa maksud dan makna keadilan itu sendiri. Dan tidak mungkin sampai pada makna keadilan yang sesungguhnya tanpa ada gambaran riil masyarakat yang hidup dalam suasanan keadilan.

Memperjuangkan keadilan mutlak perlu memahami Islam. Karena tanpa itu konsep keadilan yang dibangun tidak lebih dari skala akal yang sangat terbatas dan rentan masalah. Apalagi kalau hanya sekedar adopsi dari Barat, naudzubillah, ini adalah bentuk ketololan yang tak terhingga. Alasannya sederhana Islam telah membuktikannya, dan saat ini adalah tugas kita untuk membuktikannya bahwa dengan Islam kebenaran bisa tegak dan keadilan bisa terwujud.

Selamat Atas Karya Bunda Irene

14 September 2008 - Leave a Response

Alhamdulillah meskipun pelan, fakta-fakta yang mengungkap tentang kebohongan Barat kian terbuka. Sebagaimana telah disinggung dalam bahasan-bahasan sebelumnya, ide-ide idealis mengenai keadilan dan kemanusia dari Barat hanyalah utopia (baca kebohongan) belaka. HAM, humanisme, adalah retorika mereka untuk memperdaya penduduk dunia. Sementara agar dunia sepakat dengan frame berpikir mereka istilah teroris, radikalis, fundamentalis, ekstrimis disematkan kepada umat Islam. Sungguh suatu konspirasi yang tidak cerdas.

Alhamdulillah, Bunda HJ. Irene Handono berhasil menulis sebuah buku yang menyingkap kebohongan Barat, ke-pengecut-an Barat, dan kebobrokan Barat. Bunda Irene merangkum semua itu dalam bukunya yang berjudul “Menyingkap Fitnah Teror“. Buku tersebut diluncurkan pada Sabtu, 6/9/2008 bertempat di auditorium Universitas Al-Azhar Jakarta.

Buku setebal 320 halaman itu menyajikan pembelokan fakta tentang damainya Islam, yang itu terjadi sejak kelahiran Nabi Muhammad pada 570 M hingga saat ini yakni tatkala George W. Bush memutuskan untuk menggempur negeri Irak atas nama terorisme.

Menariknya lagi adalah, tradisi Barat yang memang tidak bisa lepas dari kekerasan. Kekerasan adalah sifat alami Barat. Saat tentara salib menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099 tercatat lebih dari 60 ribu orang Yahudi, Muslim laki-laki, perempuan dan anak-anak dibantai. Dalam hal ini dinyatakan bahwa akibat pembunuhan itu genangan darah manusia di depan kuil Salomon mencapai tinggi pergelangan kaki manusia.

Orang yang pertama kali singgah ke benua Amerika, Columbus, juga seketika menghabisi nyawa enam penduduk asli karibia saat ia baru mendarat di sana. Alasannya mereka tidak terlihat seperti orang yang beragama di mata Columbus yang menganut Katolik. Serta dugaan keterlibatan gerjea Anglican dalam melegalkan pembunuhan terhadap suku Tutsi terkait perangnya dengan suku Hutu di Rwanda.

“Buku ini saya buat supaya orang mengetahui mana yang fitnah dan tidak benar,“ ujar Bunda Irene. Fitnah yang diluncurkan terhadap umat Islam sebenarnya bukan perintah yang tertera dalam Injil. Kitab Injil yang asli menggambarkan Yesus sebagai seorang pecinta damai yang tegas. Surat Matius 5:39 memerintahkan pengikut Yesus untuk memberikan pipi mereka di tampar. Bahkan Injil mengharuskan kaum Kristen menunjukkan kedermawanan kepada lawan mereka seperti diteladankan Yesus.

Agama Kristen sesungguhnya mengajarkan penyelamatan yang berarti penebusan dosa dan kematian. Bukan permusuhan musuh Tuhan. Karena itu berperang untuk memperebutkan dunia ini tidak bermakna apa-apa. Tetapi perang salib menunjukkan kebalikan dari ajaran agama Kristen. Nah kan???

Waktu saya mengisi kajian peradaban di Universitas Muhammadiyah Surabaya, ada akhwat yang meragukan keagungan dan kedamaian peradaban Islam. Saya sampaikan bahwa keraguan tersebut adalah bentuk ketidakpahaman atas sejarah dan konsep kunci dalam Islam.

Terkait dengan hal itu adalah bukti kontemporer yang menjadi hujjah keagungan peradaban Islam. Terorisme adalah fitnah dan segala label negatif yang dilekatkan kepada umat Islam adalah bohong. Ini terbutki lewat kesaksian dua jurnalis Metro TV yang pernah disandera kelompok pejuang Mujahidin selama satu pekan di Irak. Mengutip buku karangan Meutya Hafid, 168 Jam Dalam Sandera, disampaikan kenyataan kalau selama ditawan Meutya justru merasa diperlakukan sangat manusiawi. Selain bisa beribadah selama tujuh hari Meutya selalu makan bersama penyanderanya. Hal itu membuat Meutya merasa tenang, meski dalam tawanan. Bahkan, Meutya mendedikasikan bukunya untuk perjuangan warga Irak dan penyanderanya. Jaish Al Mujahideen.

Proses penulisan buku ini memerlukan waktu selama dua tahun. Beberapa di antaranya didapat Bunda Irene dari dunia maya. Menurutnya, banyak orang Barat yang sadar kalau tindakannya keliru dan anehnya umat Islam justru asyk membeo kepada Barat. “Mari kita iqra’ kembali,” inilah pesan bunda buat generasi muda. Mari buktikan bahwa Islam itu memang lebih baik.

Selamat bunda Irene semoga menjadi amal jariah bunda dan dapat menjadi pegangan generasi muda muslim untuk lebih serius lagi mendalami Islam dan kritis terhadap pemikiran asing.

Utopia Humanisme

14 September 2008 - Leave a Response

Pernahkah kita berpikir apa maksud dari humanisme? Secara sederhana humanisme adalah kemanusiaan. Lebih detailnya humanisme berarti aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yg lebih baik (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php).

Dari sisi gagasan, dalam humanisme kita tidak menemukan adanya satu hal yang perlu diperdebatkan. Namun humanisme menjadi kontroversial tatkala kita melihat pembawa gagasan itu sendiri. Bukan tanpa sebab, humanisme lahir dari ide Barat dan mengalir begitu cepat dari mulut Barat. Di sinilah kita perlu garis bawahi. Bagaimana kaum imperialis Barat itu mengajarkan makna dan nilai kemanusiaan kepada kita bangsa Timur dan lebih khusus umat Islam?

Ada asap ada api, ada gula ada semut. Kira-kira demikian pulalah keadaannya pada humanisme. Gagasan ini sangat syarat nilai kalau tidak dikatakan syarat kepentingan. Jika ditinjau dari sisi historis humanisme memang perlu di Barat kala itu dan tentu kita tidak perlu mengikutinya. Mengapa? Jauh sebelum mereka (Barat) mengenal humanisme, toleransi dan kehidupan yang beriringan dalam keberagaman adalah budaya kita sebagai penghuni nusantara kala itu. Lalu?

Sekarang, mari kita teliti apa maksud dari istilah humanisme itu. Istilah yang banyak melenakan para cendekiawan muslim Indonesia dan banyak membuat kita terlena dan terbuai hingga tidak sedikit yang terjebak, dan selanjutnya menjadikan humanisme lebih unggul dari pada syariah yang Allah telah tetapkan.

Sejarah Humanisme

Gagasan humanisme seperti yang kita kenal sekarang ini, berasal dari Eropa. Gagasan ini berkembang pada zaman Renaisance (Kebangkitan ilmu pengetahuan dan falsafah Yunani) pada abad ke-15 dan 16 M.

Telak, ide ini muncul tak lepas karena kelamnya sejarah Barat kala itu. Setidaknya dikarenakan beberapa hal berikut:

1. Gerakan Reformasi dalam tubuh Gereja Katholik. Pada abad ke-13 M

  1. Sekularisme
  2. Prostestanisme
  3. Nasionalisme
  4. Kapitalisme dan gagasan tentang perbankan
  5. Rasionalisme di bidang pemikiran falsafah dan keilmuan.
  6. Scientisme, positivisme, materialisme, naturalisme, dan   evolusionisme dalam ilmu pengetahuan
  7. Sosialisme, komunisme, fasisme dan demokrasi liberal  dalam bidang    ideology politik dan kenegaraan.
  8. Individualisme
  9. Scientisme dan posiivisme di bidang ilmu pengetahuan
  10. Relativisme di bidang etika, termasuk relativisme nilai-nilai; hedonisme, utilitarianisme, nihilisme dlsb
  11. Kebebasan berekspresi dalam bidang kesenian dan kesusastraan

Jelas bahwa humanisme lahir karena memang di Barat penuh dengna perbedaan yang pada umumnya mereka tak mampu bersikap toleran terhadap perbedaan tersebut. Contoh kasus adalah peristiwa lahirnya agama Kristen Protestan. Dan yang ekstrem adalah konsep mengenai kapitalisme dan sosialisme. Perang Dingin antara AS dan Soviet kala itu adalah wujud dari ketidakmampuan mereka untuk hidup berdampingan.

Anehnya saat ini istilah humanisme begitu sering diucapkan oleh umat Islam. Bahkan beberapa waktu yang lalu Musdah Mulia menulis bahwa agama humanis adalah agama yang baik, dan sebaik-baik agama.

Sekarang mari kita lihat kembali bagaimana pengamalan humanisme oleh Barat. Ketika sebagian dari “cendekiawan“ kita terjebak pada humanisme Amerika dengan enak mengacak-acak Afghanistan dan Irak. Para pemuja humanisme tanah air ini tak pernah protes terhadap Amerika apalagi terhadap Israel yang hingga saat ini menjajah dan merampas hak penduduk Palestina. Apakah itu bukan pelanggaran HAM? Itukah humanisme?

Naif, terlalu naif jika kita mengagung-agungkan humanisme. Humanisme tidak lebih dari sekadar retorika yang utopia. Humanisme tidak berlaku bagi Barat. Suatu saat jika Indonesia dirasa berbahaya dalam pandangan Barat nasib seperti Irak dan Afghanistan juga akan menimpa bangsa ini.

Humanisme sengaja dihembuskan hanya agar jangan sampai hukum Islam tegak di bumi pertiwi ini. Sebab tidak masuk akal juga kalau umat Islam diajari toleransi. Sebab fakta telah membuktikan betapa Islam itu telah sempurna. Bahkan kehadiran Islam pada awalnya juga berada dalam keragaman budaya dan keyakinan. Bandingkan dengna Kristen di Barat. Kristen tidak ada rival kala itu.

Sehingga berani kiranya kita berkesimpulan bahwa, jika ada orang Islam mengagung-agungkan humanisme berarti dia :

  1. Tidak memahami Islam
  2. Buta Sejarah
  3. Orang yang tidak memaksimalkan akalnya
  4. Orang yang sengaja mencari keuntungan praktis

Mustahil mereka begitu getol mensosialisasikan humanisme jika tidak ada hubungan dengan mereka (Barat) melainkan karena pasti mereka akan mendapat keunutngan. Setidaknya mereka akan merasakan nikmatnya kuliah S2, S3 ke Barat dengan tanpa biaya sepeserpun. Enakkan?