Saatnya Berjuang Untuk Kebenaran.

Sebelum ini kita telah membahas permasalahan kebenaran lengkap dengan teori yang secara umum diakui sebagai benar oleh hampir semua penduduk bumi. Realitas yang berkembang di kalangan generasi abad 21 adalah segala hal yang dapat diindera. Jika tidak memenuhi syarat indera apapun namanya diklaim sebagai sesuatu yang tidak riil. Inilah suatu cara pandang tentang kebenaran yang dapat kita saksikan telah bersemayam dalam frame berpikir sebagian besar umat Islam. Pendapat di atas atau berbagai pendapat lain yang mengurai tentang definisi dan hakikat kebenaran tidak menjadi persoalan bagi kita. Secara rasio apa yang mereka anggap benar memang suatu hal yang ada dan terasa. Namun ketika indera yang menjadi instrumen dalam mencari kebenaran itu menjadi satu-satunya hakim penentu, maka disini Islam memberikan satu penjelasan tegas bahwa kebenaran itu tidak sebatas pada indera dan atau apa yang bisa dikatakan rasional oleh otak manusia. Karena fakta berbicara di balik keteraturan alam semesta dan kehadiran manusia di muka bumi adalah satu realita yang direkayasa oleh sang maha segala-galanya. Pertanyaannya adalah, pentingkah kita menganut ajaran kebenaran yang indera dan akal manusia tidak mungkin menjangkaunya? Jawaban yang tepat bukan pada masalah penting atau tidak tetapi pengetahuan. Pengetahuan itulah kunci utama sebelum umat manusia menentukan dan memilih satu kebenaran. Tanpa pengetahuan kebenaran yang mereka anut adalah kebenaran parsial yang tidak jarang akan sering menimbulkan beragam konflik. Inilah satu kondisi yang sering diabaikan oleh kebanyakan umat Islam. Mereka memang mengerti kebenaran itu, akan tetapi mereka gagal menterjemahkan kebenaran tersebut. Sehingga sejak 350 tahun di bawah kekuasaan Belanda hingga era reformasi umat Islam belum mencapai targetnya yakni menjadi rahmat bagi alam semesta. Umat Islam selalu termarginalkan. Meskipun sejarah telah mencatat bahwa pionir dan kontributor terbesar dalam pencapaian kemerdekaan di tanah air, justru gerak langkah perjuangan umat Islam seingkali disalah fahami. Gerakan Islam selalu diidentikkan sebagai kekuatan yang akan mengancam stabilitas negara, dan akan merubah dasar negara tercinta. Sayang, sekalipun kondisi demikian telah berlangsung cukup lama hal ini belum dijadikan sebagai satu landasan untuk menemukan strategi yang tepat untuk menjawab segala kecurigaan dan keraguan pihak-pihak yang cenderung menilai gerakan Islam sebagai satu hal yang “berbahaya”. Yang terjadi justru perpecahan yang kian tak terkendali. Lihat saja menjelang Pemilu 2009 misalnya, jumlah partai politik kian membludak. Tidak Islam maupun nasionalis sama-sama berbesar hati dan berbangga diri serta begitu percaya diri bahwa mereka bisa mengatasi problematika bangsa ini. Kompetisi demikian boleh-boleh saja dan tidak mutlak salah. Akan tetapi bagaimanapun kondisi ini menggambarkan bahwa betapa minimnya kesadaran mereka yang “pintar” untuk secara total berupaya menyelesaikan problem ini. Jika memang mereka ingin membangun kembali Indonesia, kenapa harus semua ke parpol? Mana yang peduli terhadap dakwah, pendidikan dan sosial kemasyarakatan? Sebagai muslim maka hendaknya kita menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai standar dalam menentukan benar dan salah. Bagaimana konsep kebenaran dalam Islam? Bagaimanapula konsep tentang Tuhan, manusia, agama dan kebaikan dalam Islam? Ini adalah hal-hal mendasar yang setiap umat Islam wajib untuk memahaminya dengan baik. Sehingga satu hal yang tidak seharusnya terjadi benar-benar tidak akan mewujud. Saat ini umat Islam memiliki banyak harakah sekaligus partai. Umat Islam khususnya generasi muda tidak perlu terlampau jauh terjebak pada ritme politik praktis yang kian memanas. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk memperjuangkan kebenaran. Bagaimana Islam mengurai tentang kebenaran..? Nantikan pada edisi selanjutnya.

Tidak ada komentar di halaman ini.

Tinggalkan Balasan